tulisan terbuka untuk semua, cukup di renungkan saja, tidak usah pusing menyikapinya
——————————————————————————————————–
Diambil dan saya olah dari : Tulisan Ivan Mulianta (TA98)-TikTik Dewi Sartika (KI98)-Wishnu Kurniawan (MT01)-Adrian Maulana (MT01)-Firmansyah (MT01)-Berlin Wijaya (KI00); Steve Jobs; Mas Pram; Falsafah Dasar Konsepsi Organisasi KM ITB; Manifesto Pergerakan Mahasiswa ITB 2008 – KM ITB 07/08
Thanks to Semua Kakak-kakak saya di Kampus juga, terutama Auzan Abirama (TK06), Adri Kristian (TK06), teman HIMATEK, KOKESMA, serta semua teman yang lainnya yang menjadi tempat berbagi yg luar biasa! | sekali teman tetap teman!
Jika ada kesalahan murni itu dari saya!
——————————————————–
Apa itu pendidikan?
Layakkah jika ada seseorang yang “berpendidikan” menyebut petani, nelayan, tukang sapu jalanan atau tukang tambal ban dan lain-lain sebagai orang-orang yang tidak berpendidikan? Atau result of good social upbringing memang tidak “diajarkan” dalam “pendidikan”?
Lantas apa tujuan pendidikan tadi?
Menjadi mesin pencetak manusia berijazah yang mempedulikan jumlahnya? Atau mencetak peserta didik yang memiliki nilai tinggi?
Jangan sampai kita lupa makna dan esensi pendidikan itu sendiri
Inget bisa aja —-> ITB = institut tambal ban
Mari kita mulai membahas dari manusia itu sendiri
Manusia memiliki akal, ini adalah hal dasar yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya, ia menggunakan akal juga perasaannya dalam melakukan sesuatu, dalam konteks ini adalah beraktivitas hingga membuat keputusan untuk bertindak. Dasar pertimbangan memutuskan tadi banyak sekali, ada dasar hukum, ada hasil pemikiran sampai pengalamannya. Dari sini, kita dapat menyadari juga kalau manusia itu mahluk yang menyadari temporalitasnya. Manusia memiliki kepekaan historis sehingga ia mengingat kejadian di masa lalu, sekarang dan menyadari akan adanya masa depan. Manusia juga bisa beradaptasi, menyesuaikan dirinya dengan tuntutan lingkungan, namun jika (hanya) adaptasi disini sifatnya adalah pasif. Manusia yang beradaptasi tadi (pasif) adalah manusia yang tereduksi nilai-nilai kemanusiaannya (terdehumanisasi). Sebaliknya, manusia yang memiliki kesadaran dan ingin melibatkan dirinya dalam mengolah fenomena lingkungan sehingga ia menjadi subjek di lingkungannya adalah manusia yang menyadari eksistensinya di antara mahluk hidup lainnya. Disinilah peran PENDIDIKAN, yang berasal dari kata didik dengan imbuhan pe- -an, mengubah manusia dari objek menjadi subjek.
Bagaimana sudahkah mulai terbayang premis yang bilang kalau “tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia” dari bahasan tentang “manusia” itu sendiri
Dari sini makna dari hakikat manusia dan peran pendidikan dapat dihubungkan:
Proses pendidikan yang benar seharusnya membuat manusia menjadi sadar akan keberadaan dirinya di antara manusia lainnya. Jadi, pendidikan adalah alat yang sangat vital dalam proses transformasi sosial.
Pendidikan juga adalah satu-satunya alat dalam mewujudkan “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Pendidikan adalah proses transmisi budaya atau nilai yang berkembang seiring dengan perkembangan peradaban seperti konsep Trikon Ki Hadjar Dewantara yang menekankan pada penyesuaian dengan kultur masyarakat dan pembentukan pribadi bangsa seutuhnya. Dalam proses transmisi tersebut sangat perlu diperhatikan proses transmisi dan cara yang dilakukan dalam proses transmisi tersebut. Karena itu pendidikan seharusnya disesuaikan dengan unsur-unsur budaya di mana pendidikan itu berada. Dari sini, dapat kita amati bahwa pendidikan sendiri sangat menekankan kepada proses transmisinya, dan juga bukan hanya sekedar filosofi, apa lagi sekedar hasilnya.
Apa kaitannya dalam konteks kita sebagai Mahasiswa
Dalam konteks kita sebagai mahasiswa, tujuan proses pendidikan dimanifestasikan dalam peran pendidikan yang memberi alat-alat bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangannya (tugas dan medan perangnya). Disini, makna tantangan bagi mahasiswa sebagai insan akademis adalah tatanan kehidupan yang riil berkembang sekarang dan nanti yang harus ditanggapi (termasuk tatanan kehidupan bermasyarakat – muncul istilah tatanan masyarakat madani). Namun yang perlu diperhatikan adalah tantangan ini bukanlah tujuan dari proses pendidikan itu sendiri, tetapi merupakan tugas dan medan perang yang harus dihadapi setiap generasi yang sedang atau telah menjalani proses pendidikan (mahasiswa sendiri). Sekali lagi, tujuan proses pendidikan ini menjadi alat bagi mahasiswa untuk menjawab tantangannya. Bentuk alat konkrit dari peran pendidikan yang dijelaskan disini adalah sebuah organisasi mahasiswa.
Pada dasarnya, mahasiswa mungkin tidak menyadari hakikat (yang terlalu filosofis) diatas, namun mahluk berakal yang menyadari temporalitasnya ini sangat sadar bahwa pendidikan yang dijalani di dalam kelas saja tidaklah cukup, maka mahasiswa itu kemudian akan memutuskan untuk berorganisasi, belajar di luar kelas…untuk mendapatkan pelajaran lain (kata pendidikan lah yg cocok, karena lebih bermakna – dalam undang-undang kita pendidikan seperti ini digolongkan sebagai pendidikan non formal: proses yang diperoleh seseorang dari masyarakat dan interaksi-interaksi di dalamnya, media massa, buku-buku, dan lain-lain)
Tetapi seperti apakah bentuk organisasi yang diikuti mahasiswa ini?
Akankah hanya membebek institusi pendidikan formalnya sendiri yang melabelkan “pendidikan” tapi dalam pelaksanaannya hanyalah kata-kata usang yang hanya dielu-elukan tanpa teramalkan dengan baik?
Motif seorang mahasiswa untuk mengikuti organisasi kemahasiswaan memang beragam, tetapi yang jelas organisasi kemahasiswaan hanyalah wadah, sebatas wadah saja. Organisasi kemahasiswaan berdiri dengan tujuan luhur yang mulia, jika kita mendapati organisasi kemahasiswaan yang mengalami disorientasi itu lebih disebabkan pada “isi wadahnya”. Sehingga dalam masa kini, munculah isu-isu seperti organisasi = EO. Namun, dalam menjaga “label” wadahnya ini juga lah, lahir fenomena kaderisasi. Tetapi bukan ini yang akan dibahas lebih lanjut.
Fenomena masa kekinian
Jika ditelusuri lebih dalam, hal-hal yang tadi lebih disebabkan kultur budaya populer yang tidak bisa terelakkan di “rezim” teknologi informasi sekarang, efeknya ia membawa individualis, hedonis dan pragmatisme mencuat di kehidupan sehari-hari mahasiswa sekarang. Kebebasan media massa dan media interaksi virtual yang tanpa batas memunculkan budaya pop yang lebih menjalar di kalangan mahasiswa.
Hedonisme dan pragmatisme mahasiswa ITB tidak dapat dilihat dari kaca mata hitam putih. Hedonisme adalah konsekuensi dari kebebasan informasi sedangkan pragmatisme muncul dari ketidakpastian masa depan bangsa kita…Apalagi hal ini telah dicontohkan oleh para pendahulunya, betapa idealisme kemahasiswaan dengan mudahnya luntur di dunia nyata. Kesimpulan utama dari hal ini sebagai benang merahnya adalah betapa kapitalisme telah mewabah, yang didasari dari sebuah individualisme, pragmatisme dan lunturnya nilai-nilai luhur tujuan organisasi mahasiswa yang ingin mewujudkan sebuah cita-cita atau tujuan dari “pendidikan”.
Tetapi seperti apakah sikap yang seharusnya ditunjukkan seorang yang “berpendidikan”?
“Pendidikan” kini menjadi sebuah alat industri: menjadi mesin pencetak manusia berijazah yang ingin jumlahnya terus naik dan naik serta menjadi mesin pencetak peserta didik yang memiliki nilai akademik tinggi…akankah kita membebek? Kalau bisa berfikir mendasar dan luhur, itukah yang dilakukan?
Keadaan ini semakin buruk jika kita menyadari perkataan Philip G. Altbach dalam bukunya “Higher Education in the Thirld World” mengatakan bahwa perguruan tinggi di negara-negara berkembang hanya menyiapkan lulusannya untuk menjadi sekrup-sekrup industri milik negara-negara maju (benarkah kawan?). Artinya, bagaimanapun hebat spesialisasi perguruan tinggi di negara kita, lulusannya memang sudah dipersiapkan untuk menjadi ahli-ahli mekanis industri. Menurut Weber, spesialisasi sendiri adalah hal yang menyebabkan terjadinya dehumanisasi, apalagi dalam pendidikan. Karena, jika pendidikan terspesialisasi sedemikian rupa sehingga membuat orang terdidik tidak tau apa-apa dan diam dalam hal yang di luar subjeknya, ini bisa berdampak pada alienasi pendidikan itu sendiri dari realita yang ada di masyarakat. Jacques Maritain lebih kejam lagi, jika hal ini terjadi ia menyebutnya sebagai animalisasi.
Bila kita meninjau teori core-peripheral, dengan negara-negara maju sebagai pusat teknologi yang memberikan sebagian teknologinya kepada negara-negara Dunia Ketiga, lalu negara Dunia Ketiga ini pun mengembangkan teknologinya yang sudah dibeli oleh negara di dunia maju, sehingga negara di dunia ketiga ini pun selalu kalah teknologinya.
Hal-hal yang dijelaskan tadi adalah sebuah tantangan untuk kita, membangun sebuah pendidikan bukanlah hal yang mudah, tetapi sebagai insan akademis, selalu mencari kebenaran ilmiah dan membela kebenaran ilmiah adalah sebuah tuntutan. Mengkritik dirinya sendiri dan mengkritik lingkungannya haruslah dilakukan untuk membentuk tatanan yang lebih baik di masa depan.
Karena dasar-dasar yang mengedepankan kemanusiaan (humanisme), inspirasi antar sesama individunya, keadilan sosial yang dibentuknya, mendidik untuk mencari, keikhlasan dan ketulusan, empati dan tidak antipati, kepercayaan – yang semuanya berwujud pada kekeluargaan adalah sebuah nilai-nilai luhur organisasi mahasiswa. Bukan juga sebuah kekeluargaan yang semu. Mahasiswa yang selalu berkontribusi pada organisasinya tidak akan pernah mendapat imbalan riil yang sanggup melebihi effortnya yang telah diberikan, tetapi justru inilah kekuatannya, karena proses yang membutuhkan kesabaran dan keikhlasan ini yang akan membentuk sebuah karakter yang berorientasi positif. Karena, disini mahasiswa tidak diberi bahan bakar semcam uang atau kontraprestasi apapun untuk bergerak dan berusaha, hanya orientasi dan semua perwujudan dari kekeluargaan tadi yang menjadi bahan bakar untuknya bergerak, bahkan itu yang membangkitkannya ketika ia terjatuh nanti.
Karena nilai-nilai diatas tadi, organisasi mahasiswa bukanlah sebuah kelompok kapitalis yang menjadi budak teknologi informasi, yang hanya sekedar berorientasi pada hasil, antipati, berfikir pragmatis, dan melihat untung ruginya ketika bertindak. Di golongan ini, mereka digerakkan oleh uang (percayalah dunia inilah yang akan menjebak kita nanti setelah masuk ke dunia nyata [dan inilah juga dunia yang telah banyak menjebak para pendahulu kita] – karena, sekali lagi bangsa kita sedang tidak jelas masa depannya [maukah kita mengubahnya atau diam saja?], tetapi – saya masih yakin – orientasi masa depan yang positif dan kuat yang telah kita dapat ketika berorganisasi selama menjadi mahasiswa, akan membuat kita pantang untuk tenggelam lebih dalam, atau bahkan menghindarinya, asalkan kita tetap menjaga suhu lingkungan kita dengan semangat idealisme yang tetap terbakar pula).
Memang ada dasar-dasar dan tujuan (target) yang perlu dipegang, tetapi selama kebutuhan fundamental tetap terpenuhi – saya masih percaya – tidak ada alasan untuk terus menuntut dan menuntut akan sebuah hasil bahkan hanya karena sebuah konvensi, apalagi jika dasarnya asumsi kabur, menjalankan proker saja asal bos senang, mencari popularitas, karena kemarin effort saya lebih besar dari anda jadi anda mesti bla bla bla, mencari pembenaran yang tidak mendidik dan hal buruk lainnya yang berefek disorientasi dan kehilangan jati diri.
Jika memang ingin sebuah hasil, lebih baik menelanjangi diri dan memakai jubah kapitalisme dan membuang identitas organisasi kemahasiswaan yang berada dalam suatu sistem pendidikan atau terserah…
————————————————————————————–
Kesempatan mendapat pengajaran dikampus terbaik bangsa bukan tanpa post-syndrome, efeknya harusnya secara sadar langsung terasa…
ada tanggung jawab secara sadar untuk berbuat bagi lingkungan,
dari KINETIKA reaksi kimia dalam metode tahap pengendali untuk menentukan laju reaksi, dipelajari bahwa:
laju suatu reaksi bergantung pada laju reaksi elementer yang paling lambat lajunya
kemajuan dari bangsa ini juga tergantung pada bagian yang paling lambat kemajuannya, siapa? renungkanlah?
mereka yang terdehumanisasi (?)
dan bagi kita yang sudah melaju cepat dan berada di depan,
maukah mengulurkan tangan kita untuk membantu mereka yang lambat dan berada di belakang?
karena itu adalah pendidikan…
jika memang kami tidak mampu, saya berdoa jangan sampai the rulling class selanjutnya berasal dari kalangan yang lupa esensi dan hakikat pendidikan
———————————————————————————————
Ingat, kita adalah terpelajar. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu. . .
Dan seorang terpelajar harus memperjuangkan sebuah kemerdekaan, tidak menyerah pada keadaan!
Agar mewujudkan kalimat-kalimat di atas lebih mudah, selalu ingatlah kematian, karena bisa saja hari ini adalah hari terkahir kita hidup, lalu apa yang akan kita lakukan?
Dan di penghujung hari silahkan kita berkaca, jika ini adalah hari terakhir saya dan saya tidur untuk tak bangun lagi, tanyakanlah pada diri kita sendiri: “apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini (tadi)? Lalu bagaimana dengan esok?”
STAY HUNGRY, STAY FOOLISH!
untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater
13009098