Ini adalah “bayi” yang terbit dari rahim Yasraf Amir Piliang di rumah sakit “Himpunan”

Di tengah hari, hari “leissez-faire”, jam “lembam”, menit “transisi”, detik “skeptis”

Semoga bayi ini bisa melecut sedikit semangat “tak-mau-terpolitisasi”

Apa itu keprofesian?

Kalau dari file KBBI yang sudah lama ada di computer saya dan dari KBBI online, saya tidak mendapatkan maknanya.

Lalu saya coba pelajari dari bahasanya, profesi yang ditambahkan imbuhan ke- dan –an

Seperti ini hasilnya:

Fungsi imbuhan ke- -an adalah

  • membentuk kata benda abstrak, misalnya keberanian, ketentraman, keindahan, dan sebagainya.
  • membentuk kata kerja pasif, misalnya kehujanan, kehilangan, keracunan, dan sebagainya.
  • membentuk kata sifat, misalnya keibuan, kebapakan, kekanak-kanakan, dan sebagainya.

Sedangkan maknanya adalah

  1. hal atau keadaan, misalnya pada kata berikut ini:
    1. Ia tidak memiliki keberanian untuk bertanding.
    2. Kecantikannya membuat banyak orang tergila-gila.
  2. agak atau terlalu, misalnya pada kata berikut ini:
    1. Sayur itu keasinan.
    2. Setelah bekerja seharian dia tampak kelelahan.
  3. terkena, misalnya pada kata berikut ini:
    1. Ia sakit karena kehujanan.
    2. Duduklah di bawah pohon biar tidak kepanasan.
  4. tempat, misalnya pada kata berikut ini:
    1. Orang-orang berkumpul di kelurahan.
    2. Dia tidak berada di kediamannya.
  5. menyerupai atau memiliki sifat seperti, misalnya pada kata berikut ini:
    1. Gadis itu tampak keibuan.
    2. Janganlah kekanak-kanakan.
  6. sangat merasakan, misalnya pada kata berikut ini:
    1. Dia tampak kesakitan.
    2. Gunakan selimut biar tidak kedinginan.

Dari sini dan dengan mencocokkannya dengan kenyataan – mungkin menurut saya – keprofesian cenderung berfungsi seperti bagian pertama dan maknanya seperti dijelaskan oleh bagian pertama juga

#

Keprofesian…apa sebenarnya yang ingin dicapai oleh kita dari sebuah kata ini?

Adakah justifikasi ilmiahnya yang tak-terdebatkan? Adakah rujukan rasionalitasnya yang mampu menembus dimensi moral seorang manusia kompleks?

Adakah penjelasan singkatnya yang mudah dibayangkan – seperti kita membayangkan apa itu “keadilan” dalam konsepsi kita waktu kita asumsikan dulu ketika kita kecil?

Kalau yang lain ga jelas, apa keprofesian juga sudah jelas?

Apa tujuan utama dan sasaran-sasaran dari keprofesian? Semakin ahli? Semakin professional? Semakin terspesialisasi?

Insinyur utuh yang jago dan bernaluri tinggi? Terlalu personal untuk suatu gerakan yang besar

Lalu,

Untuk apa bicara keprofesian kalau sama akademik biasa aja masih ada yang mengeluhkan …

Apa kita mau instan dan serba efisien ? belajar sedikit nilai masih pengen tetep bagus ?

Lalu,

Untuk apa berbasiskan keprofesian jika tidak ada yang diterapkan secara nyata tapi hanya kata …

Apa kita mau menyebut itu solusi tapi padahal baru teori tanpa aksi ?

Lalu,

Seperti apa seharusnya sebuah organisasi keprofesian dengan fasilitasnya  ?

Sebuah arena belajar dengan banyak peralatan aplikatif dan penuh inovasi atau sebuah arena bermain biasa ?

Atau

Apa keprofesian itu sebuah “agak”?

atau sebuah “tempat” saja?

atau “terkena” jadi itu sebenarnya tidak sengaja?

atau hanya sekedar “menyerupai” saja, jadi ya wajarlah…?

atau hanya “sangat merasakan” saja, jadi diterima saja?

Ekspektasi taraf-normal apa yang layak dilayangkan dari luar pada sebuah kata ini dan orang-orang berkumpul secara tersistem yang mengusung kata ini?

Jika, saya mesti menjelaskannya, saya mungkin akan merendahkan makna kata ini…

Dia hanyalah secuil roti yang harus kita bagi di pagi hari kepeda teman kita yang tak punya

Dia seperti keringat yang tercucur setelah kita berjalan jauh atau berlari cepat

Dia mirip atap yang hanya memberi batas lapisan antar-muka jasad kita dan sang surya

Keprofesian bisa jadi jembatan,

Adalah ketika kita bisa menjelaskan pemikiran-kita-yang-sulit-dimengerti dengan sebuah analogi kepada teman kita yang seprofesi hanya karena kita bisa memahami analogi tadi dengan cara pandang yang sama karena kita satu profesi

Keprofesian bisa jadi kentut,

Adalah ketika sesuatu yang kita keluarkan dari pemikiran kita secara sengaja, tak-sengaja, bisa ditahan, atau dipaksa untuk keluar ketika kita dicekoki sebuah persoalan oleh orang luar yang berekspektasi tinggi atas opini kita karena kita dianggap orang yang berada dalam profesinya, dan kita menganggap level sang penanya jauh dibawah kita

Keprofesian bisa jadi matahari,

Adalah ketika kita bingung atas apa yang kita lakukan sekarang dan lalu kita balik-landas – dan kita pun seolah merasa mendapatkan energi untuk bergerak kembali karena kita sadar itulah profesi kita

Tapi serius, kata ini rendah dan terlalu sempit …  dan Jangan sampai kita menjustifikasikan hal ini

disaat,

kita berada di posisi tidak bisa bersikap atas suatu perkara yang secara de jure memang tak perlu kita ketahui.

ketika kita tidak tau harus bersikap apa lalu diam saja.

ketika kita terlalu asik berada dalam tempurung.

ketika orang lain sibuk panik dan kita diam saja karena alarm-panik kita tak berbunyi.

ketika kita terlalu asik bermain dan tenggelam dalam akademika, paradox.

ini hanya lah bongkahan kecil dari suatu tuntutan dari luar dan dalam baik yang nyata atau tak-nyata atas posisi kita.

ini hanya lah output dikehendaki level easy-medium atas input yang lingkungan hebat ini bisa berikan kepada kita.

dibalik itu, rasanya masih ada suatu hal besar yang kecil, paradox.

yaitu

hidup merdeka mengetahui tanpa terpolitisasi dengan menjaga standar tinggi, terus membentuk sebuah kelayakan realita, sebagai sebuah bentuk nyata dari idealisme

—-

notes ini saya tutup dengan jawaban Bung Google waktu saya minta gambaran ttg keprofesian

http://www.google.co.id/search?q=keprofesian&oe=utf-8&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a&um=1&ie=UTF-8&hl=id&tbm=isch&source=og&sa=N&tab=wi&ei=zu0_T7nSCsPSrQfTqfyxBw&biw=1280&bih=600&sei=0e0_T-vFHIKsrAeZ8uG_Bw

Mengapa Mesti Koperasi?

 

#

Dunia

  • Sejarah
    • REVOLUSI INDUSTRI
      • the second wave, terjadi pada akhir abad 17 – pertengahan abad 20 (Toffler, the third wave). dimana korporasi menjadi salah satu dari tiga komponen utama dalam masa ini. masa ini digambarkan sebagai masa serba industri yang berbasiskan produksi masal, distribusi masal, konsumsi masal, pendidikan masal, media masa, hiburan masal, dan senjata pemusnah masal. yang dikombinasikan dengan standarisasi, sentralisasi, konsentrasi dan sinkronisasi hingga menghasilkan gaya organisasi yang disebut birokrasi.
      • revolusi industri telah mengubah era agraria menjadi era industri. disini terjadi pertumbuhan yang luar biasa dalam era kehidupan manusia, dimana pendapatan perkapita penduduk dunia meningkat sepuluh kali lipat dan jumlah penduduk dunia meningkat enam kali lipat. hal ini diawali oleh penemuan mesin uap dan kemudian diikuti oleh penemuan mesin pembakaran internal dan generator listrik. tak pelak, penemuan dan penggunaan mesin dalam industri membuat ancaman dalam kehidupan bagi para pekerjanya, sedangkan bagi para pemilik modal, ini adalah kesempatan untuk terus meningkatkan pertumbuhan dan pengembangan usahanya. (Marx)
      • Robert Owen (1771–1858) yang disebut sebagai bapak pergerakan koperasi, meskipun seorang industrialis, Owen berusaha untuk membuat lingkungan yang baik bagi para pekerja dan anak-anaknya untuk akses pendidikan, dan ini sukses diterapkan di New Lanark, Skotlandia. selanjutnya Owen memiliki ide “village of cooperation”, dimana pekerja dapat keluar dari kesulitan ekonomi dengan cara menanam pangan sendiri, membuat pakaian sendiri dan mengatur diri sendiri. Owen dikenal sebagai pemikir utama dalam gerakan awal sosialis.
      • di pertengahan 18, 1769, tercatat Fenwick Weavers’ Society sebagai koperasi konsumen pertama, dimana para pengrajin tekstil memulai penjualan oatmeal dengan harga murah dalam komunitasnya. selanjutnya, rautsan koperasi lahir. namun, di pertengahan abad 19, banyak koperasi yang tidak dapat bertahan lama dan mati. (D Peacock)
      • 1844, adalah tahun dimana Rochdale Society of Equitable Pioneers menuangkan Rochdale Principle. sebuah grup yang berisikan 28 orang ini merupakan para pekerja tekstil yang tersiksa karena gaji yang terlalu rendah sehingga tak mampu membeli makanan yang mahal dan bahan-bahan rumah tangga. mereka kemudian berkumpul mengumpulkan sumberdayanya untuk membentuk RSEP agar mereka bsia mendapatkan barang-barang dengan harga murah, pada awalnya hanya ada empat barang yang dijual: tepung, oatmeal, gula dan mentega. para perintis ini kemudian sepakat untuk memperlakukan para pembeli lain dengan jujur, terbuka dan respek, dan mereka bisa mendapatkan keuntungan sesuai kontirbusi dan mereka pun berhak bersuara secara demokratis dalam bisnis tersebut. setiap konsumen kemudian menajdi member/anggota dalam bisnis tersebut. prinsip dari RSEP ini kemudian menjadi fondasi utama dalam koperasi, meskipun ada revisi dan pembaruan, namun secara esensial prinsip ini secara praktiknya tetaplah sama dari yang dipraktekan RSEP dahulu (ICA).
      • dari sisi sejarah, tak bisa dipungkiri bahwa koperasi adalah sebuah bentuk perkumpulan dari masyarakat yang berada di bawah yang menyadari bahwa mereka perlu bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan atau kemakmuran pribadi dan bersama yang semakin sulit dipenuhi jika diusahakan sendiri-sendiri.
    • SISTEM EKONOMI
      • faktor sistem ekonomi tidak terlepas dari revolusi industri
      • ketika revolusi industri berkembang, paradigma yang berkembang di dunia bisa dibelah menjadi dua: kapitalisme dan sosialisme. kekuatan utama kapitalisme menyatakan bahwa era pencerahan menjanjikan peningkatan kekayaan dan peningkatan kehidupan secara umum. namun, revolusi industri semakin mengutubkan dua kelas dalam masyarakat, yaitu pemilik modal (borjuis) dan para pekerja (proletar). sehingga menurut Karl Marx, kapitalisme hanyalah perkembangan baru dari model ekonomi feodalisme. namun, sosialisme sendiri berdiri hanya sebagai antitesis dari kapitalisme saja (dialektika Hegel)
      • 1840-an, adalah tahun dimana antitesis kapitalisme berkembang, ditandai dengan terbitnya publikasi Engels yaitu The Condition of the Working Class in England (1845) dilanjutkan dengan terbitnya The Communist Manifesto (1848) dan seri Das Kapital (1867–1894)
      • 1848, adalah tahun revolusi Prancis, “Liberté” (Liberty), “Egalité” (Equality) and “Fraternité,” (Brotherhood) mulai dikumandangkan. namun, dalam praktiknya yang tercapai hanyalah demokrasi berpolitik, sedangkan demokrasi ekonomi bertambah jauh, karena perpecahan jelas dan perjuangan kelas semakin terlihat. revolusi individualisme prancis dan revolusi industri inggris merupakan motor dan kodrat kapitalisme modern. dalam ekonomi, semangat individualisme ini menggunakan semboyan “leissez faire, laissez passer” artinya merdeka berbuat dan merdeka berjalan. dalam politik, kaum buruh sulit berserikat karena terlarang akibat paham bahwa perserikatan membatasi kemerdekaan orang, padahal kaum yang lemah membutuhkan perserikatan untuk berkembang. sedangkan kaum kapitalis, “bisa” berserikat karena dari luar terlihat hanya modal yang terkumpul, tetapi badan-badan kapitalisme mampu memperkuat diri dengan jalan persatuan dan konsentrasi untuk tetap dapat bersaing secara bebas dan tetap mencari untung. dengan ini, timbulah zaman rasionalisasi: berusaha sedemikian rupa dengant enaga sedikit tapi mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. keadaan ini terus akan menggerus kaum burh yang lemah dan semakin lama semakin banyak manusia yang penghidupannya dikuasai kaum kapitalis. hilanglah feodalisme, timbul penindasan kapitalisme. pengupayaan demokrasi slit dapat berjalan dengan otokrasi ekonomi hasil kapitalisme : satu diantara kedua ini harus dilenyapkan. dari sini, dapat disimpulkan bahwa demokrasi barat hanyalah menghasilkan demokrasi politik tapi tidak dengan demokrasi ekonomi. demokrasi politik sendiri tidaklah cukup untuk mencapai demoktasi yang sebenarnya, yaitu kedaulatan rakyat. haruslah ada demokrasi ekonomi, dengan dasar: segala penghasilan yang mengenai penghidupan orang banyak berlaku di bawah tanggungan orang banyak juga – demokrasi barat berdasar individu!. demokrasi kita seharusnya harus meliputi dua sifat: (1) pengambilan keputusan dengan cara mufakat sebagai pertanda demokrasi politik dan (2) tolong menolong dan gotong royong sebagai sendi untuk menegakkan ekonomi. dengan ini nyatalah bahwa kedaulatan rakyat yang kita ciptakan sebvagai sendi Indonesia mengandung cita-cita demokrasi politik dan demokrasi ekonomi (Hatta).
      • sejak 1844 – Rochdale Principle, KOPERASI adalah bentuk praktik ekonomi yang melakukan perwujudan demokrasi ekonomi dan demokrasi politik

 

 

 

ROCHDALE PRINCIPLE

 

+ Voluntary and open membership (SUKARELA)

 

+ Anti-discrimination (SEMUA SAMA)

 

+ Motivations and rewards (MANFAAT)

  • Financial – Some co-operatives are able to provide members with financial benefits.
  • Quality of life – serving the community through a co-operative because doing service makes one’s own life better – is perhaps the most significant motivation for volunteering. Included here would be the benefits people get from being with other people, staying active, and above all having a sense of the value of ourselves in society that may not be as clear in other areas of life.
  • Giving Back – many people have in some way benefited from the work of a co-operative, or more generally, and volunteer to give back.
  • Altruism – volunteering for the benefit of others.
  • A sense of duty – some see participation in community as a responsibility that comes with citizenship – in this case they may not describe themselves as volunteers
  • Career Experience – Volunteering offers experiences that can add to career prospects.

 

+ Democratic member control (1 MAN 1 VOTE dan MUFAKAT-lah)

 

+ Member economic participation (ASPIRASI EKONOMI ANGGOTA)

 

+ Democratic control (RAT dan 1 MAN 1 VOTE)

 

+ Limitations on member compensation and appropriate use of surpluses (SHU)

 

+ Autonomy and independence (INDEPENDEN, BADAN HUKUM)

 

+ Education, training, and information (PENDIDIKAN!!!!!!!!)

 

+ Cooperation among cooperatives (PERJUANGAN: SESAMA! – REKTORAT BODO AMAT!)

 

+ Concern for community (PEDULI SAMA KARYAWAN DAN KELUARGANYA!!!!)

 

 

#

 

Indonesia

  • Hantu Ekonomi Masa Kini: Neoliberalisme Dan Neokolonialisme (Sebuah Kepingan-Kepingan akan Kondisi Kita)
    • Neoliberalisme (neolib) adalah sebuah konsep ekonomi yang baru mencuat akhir-akhir ini di Indonesia. Namun, beberapa pihak  menyatakan bahwa “neolib itu tidak pernah ada”. Tetapi, Prof Edi Swasono, guru besar ekonomi UI, menyergah, “Neolib itu ada dan di Indonesia telah mengakibatkan arah pembangunan ekonomi keluar dari rel konstitusi, sehingga perlu direhabilitasi secara menyeluruh” (Edi Swasono, 2000). sebelum berbicara lebih jauh tentang perannya dalam perekonomian sekarang dan cara menanggulanginya, mari kita pahami dulu tentang paham neolib ini (karena pemahaman ini diluar keilmuan teknik, dan kita tidak boleh buta dengan ekonomi agar tida menjadi robot). dalam tatanan kurikulum akademis perguruan tinggi (ekonomi) di Indonesia, paham neolib tidaklah diajarkan, karena neolib bukan mazhab ekonomi dan neolib bukan hanya tentang ekonomi tapi juga politik, sehingga ranahnya beririsan dalam kebijakan publik. selain itu, neolib selalu disamakan dengan mazhab neoklasik yang seangat mementingkan diri sendiri, rasional-egois yang tidak punya rasa bermasyarakat atau berkomunitas (diluar batasan sosial). padahal mazhab neoklasi dam neolib sangatlah berbeda, neolib sendiri memperluas batasan dengan persoalan sosial. menurut A. Pettifor (2003), Neoliberalisme adalah suatu filosofi politik dan ekonomi yang cenderung mengangkat pasar pada posisi yang dominan, serta mempiroritaskan privatisasi, efisiensi dan pertumbuhan ekonomi daripada tujuan-tujuan lainnya termasuk redistribusi dan keadilan sosial. Pakar lain, yaitu MC Howard dan JE King (2008) menyatakan bahwa neoliberalisme adalah ideologi yang menyatakan bahwa hampir keseluruhan persoalan ekonomi dan sosial mempunyai solusi berbasis pasar atau solusi di mana proses pasar tampak secara nyata. Harvey (2005) dalam bukunya A Brief History of Neoliberalism yang diterbitkan Oxford University Press menjelaskan bahwa neolib merupakan landasan teori bagi praktik ekonomi-politik yang menyatakan bahwa kesejahteraan manusia dapat ditingkatkan sebaik-baiknya melalui pembebasan kewirausahaan dan keterampilan individu yang merdeka dalam kerangka kelembagaan yang dicirikan oleh hak milik yang kuat, pasar bebas dan perdagangan bebas. Montgomerie (2007) dalam bukunya The Logic of Neoliberalism and The Political of COnsumer Debt-led Growth  menerangkan bahwa logika dari proyek-proyek berlatar neolib adalah agar pemerintah mengupayakan pertumbuhan ekonomi melalui investasi swasta. namun, praktik pemerintah dalam bidang perekonomian haruslah berada dalam titik minimal dan inflasi harus diupayakan stabil. (Eriyatno, 2011)
    • Landasan akademik dari logika neolib berasal dari pemikiran Milton Friedman dalam karyanya Theory Moneterism dan Frank Knight dengan karyanya Theory of Everything. Friedman menyatakan bahwa kebijakan pemerintah hanya terbatas pada stok uang dan bank sentral-lah yang akan mengelola moneter agar ekonomi terus tumbuh. sedangkan, Frank Knight memberikan analisis bahwa untuk semua persoalan sosial mapupun publik, pasar bebas, jika diberikan kesempatan untuk bekerja tanpa halangan, akan menghasilkan outcome yang optimal dan konsisten. Perihal ini mencakup kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, dan kriminalitas. Kedua landasan ini semakin kuat ketika 1980-an yang ditandai munculnya Reagonomics yang menyatakan bahwa “No alternative to the market” atau sebuah pernyataan yang semakin meyakinkan ketidak-terbatasan kerja dari pasar-bebas kapitalisme dan Thatcherisme yang menyatakan bahwa There is nothing such of society, there is only individual and the family. Pergerakan ini kemudian menebar ke seluruh sistem pembelajaran eknonomi dunia, mempengaruhi ribuan kebijakan publik dengan didorong bukti empiris peningkatan modernisasi dunia yang melahirkan kelompok neolib fanatik yang oleh Soros disebut Fundamentalis Pasar. (Eriyatno, 2011)
    • Fundamentalis pasar percaya bahwa pasar bebas mampu mengoreksi secara mandiri. selalu ada keseimbangan baru atas gangguan yang terjadi. dan para fundamentalis pasar percaya bahwa pemahaman ini tidak ada alternatifnya. pasar yang dirujuk sendiri – bukan hanya sekedar penjual danpembeli – tapi merupakan keseluruhan sistem yang dimulai dari produksi, distribusi dan konsumsi. kalangan neolib sering mengaburkan tiga jenis pasar yang ada (Cassidy, 2009) yaiut pasar barang, pasar tenaga kerja, dan pasar finansial. pengaburan definisi ini yaitu memperlakukan indeks harga saham sama dengan kelapa sawit sebagai kondisi yang diinginkan. generalisasi seperti ini dapat mengaburkan fakta bahwa pasar merupakan sebuah konstruksi sosial yang terdiri dari tatanan-tatanan khusus sehingga ekonomi bisa tetap fookus pada beberapa landasan yang digunakan bersama seperti peran dari insentif, daya saing dan harga. oleh Cooper, pengoreksian mandiri pasar bebas disebut sebagai Efficient Market Hypothesis (EMH). jika ditinjau dari ilmu sistem, EMH termasuk ke dalam kategori umpan balik negatif yang biasa dijumpai pada sistem dinamik yang stabil (contohnya thermostat pada pendingin udara). Proses stabilisasi yang otomatis ini dipercaya berlaku pada sistem pasar, sehingga lahir istilah ‘invisible hand‘ yang merupakan self-regulator dalam pasar bebas. Teori ini kemudian dipertanyakan oleh Cooper sewaktu membahas pasar finansial, dimana terjadi umpan balik positif sehingga muncul geleumbung perniagaan sahan dan secara internal punya potensi untuk meletus sendiri-sendiri (krisis jika simultan dan gelembung besar). Teori ini dikenal denga istilah Financial Instability Hypothesis. (Eriyatno, 2011)
    • Jika ditinjau dari aspek kebijakan publik. Untuk dapat menduga keberadaan neolib, menurut CR Morris (2009) neolib mempromosikan suatu teori dimana pemerintahan menjadi cabang dari ekonomi. tentu saja ini menghasilkan pemerintah boneka yang pengatur geraknya adalah para dedengkot ekonomi atau korporat-korporat besar multinasional. neolib dalam kebijakan publik telah mengukung kebijakan primer dari perpolitikan agar terus bisa melayani kepentingan dari pengusaha, korporasi / perusahaan besar, investasi swasta dan liberalisasi pasar. neolib beroperasi dalam konteks ortodoksi neo klasik untuk globalisasi. sehingga perdagangan dan pembangunan bisa tumbuh cepat dengan harapan bahwa ketidakmerataan pendapatan dan kekayaan akan mengecil sewaktu dunia turut ikut konvergen ke dalam model demokrasi liberal dan kapitalisme. Sejalan dengan itu, upaya untuk menumbuh-kembangkan kewirausahaan (entrepreneurship) dianjurkan umenjadi kebijakan publik yang berfungsi sebagai kunci untuk meningkatkan kinerja ekonomi nasional. menurut, Prof. Eriyatno (2011) hal ini sangat positif dan masuk akal.
    • Aplikasi kebijakan neolib yang mempengaruhi pemerintah dalam membuat kebijakan adalah model kebijakan pertumbuhan tanpa inflasi dengan contoh
      • perdagangan bebas, kebijakan berorientasi eskpor dan anti-proteksi impor
      • pengurangan subsidi bagi publik, dari BBM sampai pupuk
      • privatisasi BUMN sehat melalui penjualan saham
      • memantapkan stabilitas harga agar nilai keuntungan yang didapatkan oleh para investor tetap konstan

Jika keempatnya dikombinasikan hasil yang diharapkan adalah inflasi yang berada pada tingkat minimum melalui pengendalian upah pekerja agar profitabilitas produksi tetap terjaga. Kebijakan ini adalah bumerang, karena kebijakan anti-inflasi ini berdampak buruk terhadap industri hulu dan sektor pertanian rakyat sebagai penghasil bahan baku. Kebijakan ini hanya menguntungkan pemilik modal yang kaya raya. Seperti yang terjadi di Belgia dan Perancis pada 2009, dimana harga susu di tingkat produsen lebih rendah daripada ongkos produksinya. (Eriyatno, 2011)

  • Kebijakan neolib bukan hanya mengendalikan pemerintah tapi juga lembaga-lembaga ekonomi internasional seperti IMF. Menurut Palast (2011), empat langkah IMF untuk menyelamatkan Asia pada krisi moneter 1997/1998 justru telah menjerumuskan negara-negara yang ditodong tersebut ke dalam jebakan utang dan kerentanan ekonomi jangka panjang. Hal ini disebabkan oleh cengkeraman kepentingan asing yang masuk dan diperdagangkan dengan utang yang diberikan oleh IMF. empat langkah IMF adalah (1) privatisasi, (2) liberalisasi pasar modal, (3) pembentukan harga berbasis pasar, (4) pembukaan pasar untuk perdagangan bebas. Kedepannya negara kita harus semakin waspada karena pengupayaan globalisasi pengetahuan dari pegangan utama kelompok mainstream ini akan memasuki ranah pendidikan kita secara langsung (RUU Perguruan Tinggi, akan ada cabang PT dari luar negeri yang ada di Indonesia). Masuknya kurikulum dan pendidikan luar negeri ini tentu akan semakin memperkuat paham-paham yang mereka anut dalam rangka mempertahankan kepentingan-kepentingannya di Indonesia.
  • Bagaimanapun juga, saat ini dan kemungkinan besar kedepannya, eknomi arus utama (neolib) tetap akan diutamakan di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh pengajaran ilmu ekonomi yang memprogandakan bahwa pasar bebas membentuk transaksi sukarela dari penjual dan pembeli yang dapat mengoordinasikan aktivitas dari jutaan manusia. Dalam situasi ini setiap orang akan mencari kepentingan sendiri dengan cara sedemikian rupa sehingga setiap orang akan menjadi lebih baik. Filsafat ini sering dikenal sebagai ‘leissez-faire‘ yang berarti “biarkan saja” atau “jangan diganggu” oleh Hatta disebut “merdeka berbuat”. Filsafat ini memiliki konsekuensi, yaitu memperkuat hak milik, mengecilkan pajak impor dan menghilangkan peran pemerintah dalam monopoli pembeli dan distribusi barang. setiap intervensi pemerintah terhadap perekonomian saja dianggap bukan tidak bijaksana, tetapi juga dianggap salah secara moral. Pendapat ini sudah menjadi filsafat politik sekaligus keyakinan sekuler yang melahirkan fundamentalis pasar. Cassidy menamakan fenomena ini sebagai ‘Utopian Economics‘ yang mampu mengalahkan doktrin ilmiah.
  •  Dengan campur tangan lembaga antar bangsa, badan-badan finansial internasional, dan terbukanya bermacam-macam zona perdagangan bebas, kita wajib mewaspadai bila ada agenda tersembunyi dari pemrakarasa neolib yaitu terwujudnya neoimperialisme dalam bentuk emporium finansial serta penguasaan sumbr daya alam dunia (Kwik Kian Gie, 2009). Karena, pada kenyataannya kapital (modal) tidak diakumulasi melalui perdagangan bebas, namun melalui kontrol monopoli pada proses produksi kekayaan sumber daya alam, sumber daya manusia dan tenaga kerja serta investasi perindustrian. Para neoliberalis tersebut selalu berkhotbah tentang demokrasi dan kesetaraan kesempatan bagis emua. Hukum-hukum yang mengatur hak kepemilikan, perdagangan, dan ekspor-impor dipromosikan sebagai penerapand emokrasi dan seolah memberikan peluang yang sama bagi semua. Namun, realitasnya itu hanya ilusi, strategi tersebut hanya menguntungkan segelintir orang kaya dengan mengorbankan orang banyak. secara global, strategi tersebut berpihak pada negara adidaya dengan mengorbankan negara-negara sekitarnya (periphery). Di Indonesia, keterbukaan pasar komoditas dan pasar keuangan telah menimbulkan keprihatinan bagi ketahanan ekonomi nasional. Kebijakan publik yang hanya dapat dijustifikasi oleh riset sembarangan (sloppy research) oleh oknum-oknum tak-berdedikasi dapat berdampak negatif dan dapat menyebabkan chaos dalam jangka panjang. pada titik inilah kita masuk kepada ketergantungan terhadap peran cendekiawan dalam universitas sebagai pusat peradaban sebuah bangsa untuk membendung neokolonialisme dan neoimperialisme ini.
  • Neokolonialisme dan neoimperalisme sedang terus mengancam negara kita. neokolonialisme berati bentuk baru eksploitasi negara kuat terhadap negara lemah dengan transfer sumber daya negara lemah ke negara kuat tersebut, sedangkan neoimperialisme berarti sebuah kontrol gaya baru lewat aturan atau kebijakan (policy) ekonomi dan politik yang dominan dari suatu negara terhadap negara lain. Dalam pidatonya ketika Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2011, BJ Habibie menyatakan bahwa manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi salah satunya adalah pengalihan kekayaan suatu negara ke negara lain. yang kemudian diolah dengan nilai tambah yang tinggi dan kemudian dijual kmebali ke negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus membeli jam kerja bangsa lain. ini adalah bentuk penjajahan baru yang dimaksud. Beliau juga menambahkan bahwa implementasi sila ke-5 untuk menghadapi globalisasi dalam makna neokolonialisme atau “VOC baju-baru” itu adalah bagaimana kita memperhatikan dan memperjuangkan “jam kerja” bagi rakyat Indonesia sendiri, dengan cara meningkatkan kesempatan kerja melalui berbagai kebijakan dan strategi yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan usaha meningkatkan “Neraca Jam Kerja” tersebut, kita juga harus mampu meningkatkan “nilai tambah” berbagai produk kita agar menjadi lebih tinggi dari “biaya tambah”; dengan ungkapan lain, “value added” harus lebih besar dari “added cost“. Hal itu dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas dan kualitas sumberdaya manusia dengan mengembangkan, menerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • Fenomena masyarakat kelas menengah Indonesia saat ini akan menjadi tantangan yang harus dapat dihadapi, karena saat ini pertumbuhannya sangat cepat dibanding negara lain (ADB, 2010). siapa itu kelas menengah? menurut ADB (Asean Development Bank), mereka adalah orang yang berpenghasilan 2-20 dolar AS per hari, sedangkan Richard Robinson dalam “The New Rich in Asia” menyatakan bahwa kelas menengah adalah kelas menengah struktur ekonomi politik, mereka terdiri dari kalangan intelektual, teknokrat, manajer profesional, pengacara, aktivis LSM, aktivis partai politik, aktivis mahasiswa, dan pengusaha menengah bawah. pada 2009, jumlah kelas menengah Indonesia mencapai 93 juta jiwa (KOMPAS). dalam tulisannya, Sandiaga Uno menyatakan bahwa ini adalah fase pertama dari perekonomian Indonesia yang kita sebut sebagai factor driven economy atau sering disebut juga sebagai resources driven economy. Saat ini kita harus berubah karena tidak selamanya kita bisa bergantung pada sumber daya alam Indonesia. dari hasil riset Litbang Kompas, disebutkan bahwa kelas menengah memiliki kepedulian terhadap lingkungan terdekatnya. namun, tingkat kekritisan sebagian besar responden kelas menengah makin rendah seiring dengan ruang lingkup problem di masyarakat. mereka cenderung tidak mau mengkritik, apalagi melakukan aksi terhadap masalah di tingkat kota dan nasional. menurut Ketua Umum Masyarakat Profesional, Ismed Hasan Putor mengakui bahwa kelas menengah saat ini cenderung enggan terlibat dalam politik akibat citranya yang lekat dengan sifat korup dan transaksional. akan tetapi, bukan berarti kelas menengah tidak peduli dengan kehidupan bangsa, justru saat ini banyak kelompok kelas menengah yang secara konkret memberdayakan masyarakat melalui pendidikan dan berwiraswasta dengan jujur. jika saja kegiatan ekonomi yang diusahakan oleh wirausahawan-wirausahan Indonesia tepat sasaran dan masif – tentulah pemberdayaan masyarakat dan pemerataan kapital bisa diupayakan. karena kekuatan moral kelas menengah sangatlah kuat dan memberi warna dominan dalam masyarakat. contoh gerakan dari kelas menengah yang nyata adalah “koin untuk Prita”, “dukung Bibit-Chandra”, dan “Revolusi Mesir 2011″ (Ridwansyah Yusuf Achmad, 2011).  kelas menengah adalah kelompok yang sangat berpotensi sebagai pelaku utama yang melakukan perubahan (agen perubahan). namun, tentu tidak semua kelompok dalam kelas menengah mampu atau mau melakukan ini. siapa saja kelompok kelas menengah yang berpotensi menjadi agen perubahan ini? orang-orang yang duduk dalam organisasi dan mempunyai posisi untuk mengarahkan orientasi organisasinya. Dapat diambil contoh, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat (ormas), lembaga swadaya masyarakat, pengelola media massa, pengelola koperasi, asosiasi dagang, organisasi konsultan, atau asosiasi profesi. Merekalah yang masih mempunyai ruang pengembangan gagasan alternatif dalam organisasinya dan relatif mempunyai basis ekonomi yang melampaui tingkat survival. di tangan merekalah golongan masyarakat yang dapat menekan perubahan tata kelola politik yang dapat dikatakan memburuk belakangan ini. mereka adalah sosok penting karena sesuai hasil riset Litbang Kompas yang menyatakan bahwa kelas menengah bersifat apatis terhadap politik dan aktivisme perbaikan publik secara mayoritas. kesimpulan yang dapat ditarik dari sana adalah bahwa kelas menengah secara umum Indonesia tidak dapat menjadi kekuatan pembaharu bagi perbaikan kehidupan bernegara. perhatian utama golongan ini adalah pemuasan konsumsi, selain biaya pendidikan anak. dari sudut analisa seperti di atas, maka solusinya tidak bisa diharapkan dalam kebijakan negara, tetapi mesti bertumpu pada sosok-sosok agen perubahan tadi. solusi harus dicari dari organisasi masyarakat sendiri. adalah tidak mungkin mengharap para politisi yang berkuasa akan memberikan kebijakan yang menumbuhkan tingkat kritis masyarakat. organisasi non-pemerintah harus kreatif mencari metode-metode untuk pengembangan kultur kritis dan kapasitas melakukan aktivisme sosial. (Meuthia Ganie-Rochman, 2012)  disinilah, kita akan menemukan peran utama jika kitaberposisi sebagai kader koperasi: melaksanakan pendidikan yang menumbuhkan wawasan, karakter, kekritisan, dan nilai-nilai luhur jati diri koperasi.
  • dalam hal kelas menengah, kita harus melihat pertumbuhan dan jumlah yang tinggi di kelas menengah Indonesia dari dua sisi: sebagai pelaku ekonomi rumah tanggai produksi dan pelaku ekonomi rumah tangga konsumsi. sebagai konsumen, kelas menengah adalah potensi pasar yang sangat besar. sekarang apakah kita akan menjadi pemain atau menjadi penonton? apakah kita akan ambil bagian dari perubahan ini atau hanya melihat peluang ini diambil oleh pihak asing? siapakah yang akan memanfaatkan peluang ini? karena kelas menengah yang tumbuh akan menuntut better education, better healthcare, more lifestyle, dan better product and services. Peluang ini terbuka lebar bagi siapa saja. (Sandiaga Uno, 2011). sedangkan jika ditinjau dari sisi produsen, kelas menengah adalah kelompok yang sedang menggeliat dalam pergerakan kewirausahaan dengan jujur. ini adalah bentuk konkret kepedulian kelas menengah dalam kehidupan berbangsa, dengan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. kombinasi-peluang-pasar dan minat-tinggi-kewirausahaan adalah tantangan yang harus dijawab generasi muda masa kini. sedangkan untuk mewujudkan sebuah kekuatan ekonomi yang juga mampu mendidik dan memberdayakan masyarakat agar tercipta suatu gerakan perubahan yang masif dari kelas menengah adalah dengan perwujudan koperasi yang berkualitas. kolektivitas, demokrasi, pendidikan dan pemberdayaan ekonomi adalah senjata sekaligus manfaat dari koperasi jika dikaitkan dengan kondisi ini. sekali lagi ini adalah tantangan yang kita sendiri harus bisa menjawabnya.
  • Dari kepingan-kepingan penjelasan di atas, kita sudah mendapatkan gambaran penyebab, gambaran kondisi dan sedikit gambaran strategi dari BJ Habibie dan peluang-peluang yang ada serta peran-peran yang mesti kita ambil. Kita harus tetap sadar bahwa permasalahan dunia saat ini berasal dari Neolioberalisme dan ini harus dicabut dari hulu akademiknya yang sedang mencengkram. G Cooper (2008) sendiri mengatakan “Apabila seumber kesalahan dicari, maka kesalahan tersebut haruslah dijatuhkan pada komunitas akademik yang secara kolektif memutuskan untuk terus mempromosikan teori yang lemah tentang efisiensi pasar yang mampu mengatur sendiri, meskipun bertentangan dengan bukti-bukti yang kontradiktif di lapangan”. Gedung pencakar langit, mall-mall serba modern, jalan tol, tempat wisata mewah, dan kelas menengah atas akan terus berkembang biak, sementara rakyat jelata hanya bisa menonton di pinggiran atau di tayangan televisi. Untuk melawan neolib, menurut Dyck (2008) sel kanker neolib akan bisa hidup pada tubuh komunitas yang disehatkan oleh kontrak sosial yang berkesinambungan yang bercirikan (1) demokrasi yang semakin inklusif (2) interaksi sosial untuk restorasi komunitas (3) suatu konsep pasar bagi sistem ekologi yang kompleks (4) akses pasar modal tanpa pandang bulu (tidak diskriminatif). Pada dasarnya, koperasi – dengan segala kekuatan (jati diri) dan segala kelemahannya – dapat menjadi alternatif solusi dalam melakukan kegiatan ekonomi yang berbasiskan pemberdayaan masyarakat. Pemikiran Dyck sendiri sejalan dengan prinsip-psinsip koperasi. Namun, karena untuk mempertahankan pengelolaannya agar tetap inklusif, penguatan koperasi haruslah berpusat pada kuantitas dalam kualitas. Tidak apa hanya sekitar rumahan atau dalam lingkup RT/RW namun tetap kualitas demokrasi ekonomi dan politiknya yang utama. Koperasi harus menjamur, namun harus tetap berkualitas dan koperasi apa yang mesti dihidupkan di masa depan adalah koperasi yang berbasiskan teknologi yang mampu memberikan nilai tambah lebih besar dari biaya yang ditambahkan sesuai konsep BJ Habibie juga koperasi yang mempu memberikan pendidikan bagi anggotanya secara teori dan prakteknya yang mencirikan jati diri koperasi. Perwujudan knowledge-based-economy ini tentulah membutuhkan tenaga-tenaga ahli berkualitas yang mestinya lahir dari ITB. KOKESMA ITB sebagai koperasi kader – dan kader koperasi tentulah harus mampu mendidik anggotanya untuk mampu membentuk agen-agen pengubah bangsa ini.

 

#

 

ITB

  • KARAKTER UTAMA dan DAYA SAING UNIT
    • Rhenald Kasali menulis bahwa – mengutip PBB – bahwa tahun 2012 adalah tahunnya Koperasi. Penduduk negara-negara di Dunia sedang berlomba dalam pengembangan Koperasinya mewujudkan Koperasi kelas dunia. Faktor ini didukung dengan keadaan ekonomi dunia yang sedang terpuruk dan masih berjuang untuk bangkit. Namun, dari daftar 300 koperasi kelas dunia yang dirilis ICA ( International Cooperative Alliance), tidak satu pun ada koperasi yang berasal dari Indonesia. Belanda dan Jepang memasuki daftar itu, bahkan Singapura dan Malaysia ikut masuk ke daftar tersebut. Padahal kurang apa ya negeri ini? Penduduk prasejahtera masih banyak, kementrian yang menangani khusus koperasi juga ada, APBN nya pun disediakan. Tidak ada badan hukum usaha lain yang diajarkan di sekolah sejak SD selain koperasi. Koperasi juga dijadikan praktek di sekolah-sekolah. Indonesia juga tidak kurang mengenal tokoh-tokoh koperasi, termasuk pendiri negeri ini Bung Hatta. Sementara di Inggris, Belanda, dan Amerika Serikat yang sangat kapitalis, koperasi justru berjaya. Ada apa gerangan?(Rhenlad Kasali, 2012)
    • Kenyataan di atas tidaklah aneh, terutama bagi para pejuang Koperasi Mahasiswa. Meskipun Koperasi sudah diajarkan dan dipraktekan sejak SD hingga kita SMA, tetapi di pendidikan utama – pendidikan tinggi – yang sedang kita tempuh sekarang, Koperasi bukanlah tempat idaman mahasiswa untuk mengembangkan dirinya. Dalam era globalisasi saat ini, dunia menyiapkan alternatif dalam segala aspek tatanan kehidupan kita, begitu juga dunia dalam kampus (kemahasiswaan) yang memiliki banyak sekali wadah pembelajaran yang beragam. Tentu saja setiap wadah pembelajaran ini memiliki karakteristik yang berbeda dan menawarkan sesuatu yang berbeda pula. Di tengah era masturbasi-manfaat yang ditawarkan, mahasiswa yang cenderung hedonis dan pragmatis sekarang (Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 2008, Kabinet KM ITB 08/09) tentu tenggelam dalam membenturkan antara manfaat, minat, keinginan dan mungkin juga kebutuhan akan pemebelajaran yang perlu diambilnya di dunia merdeka terakhir mereka dalam fasa hidupnya – menjadi mahasiswa.
    • Segala kepragmatisan kita sebagai mahasiswa ITB timbul atas dasar ketidakpastian akan nasib masa depan bangsa ini (Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 2008, Kabinet KM ITB 08/09), namun jika kita tidak pernah mencoba berfikir untuk mengurangi ketidakpastian tadi sejak sekarang, selamanya anak-cucu kita akan hidup tenggelam dalam ketidakpastian zaman. Ini lingkaran setan. Ketidakpastian ini muncul karena bangsa kita tidak bebas berbuat, tidak bisa bebas memilih dengan berbagai alasan. Kita tidak mandiri. Ada banyak alasan: ada faktor kapabilitas, ada faktor ketidakberanian, dan ada juga faktor tekanan dari dalam diri atas kondisi ketidakpastian yang terjadi tadi. Disini, tidak perlu kita membahas terlalu banyak akan alasan-alasan tadi, karena kita bisa terjebak dalam excuse, yang tidak akan pernah usai selama kita tidak mengerjakan solusinya.
    • Sebagai salah satu wadah pembelajaran di Kampus, KOKESMA ITB harus bisa mengkolaborasikan antara manfaat untuk anggotanya dan kebutuhan akan perannya yang ingin mewujudkan masyarakat adil makmur berdasarkan daerah kerjanya dan juga perannya yang ikut mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan di ITB (AD KOKESMA ITB). Stimulus manfaat KOKESMA ITB bagi anggota tidak boleh hanya terpaku pada masalah materi saja. Sebagai tambahan, argumentasi perwujudan manfaat materi sendiri semakin melemah justifikasi-aktualnya karena kondisi neraca keuangan KOKESMA ITB yang tidak baik. Ke depannya, pendekatan penyampaian manfaat bagi anggota harus mampu diberikan dengan usaha dan pembuktian dalam hal perwujudan jati diri koperasi dalam kehidupan KOKESMA ITB.  Hal ini memerlukan pemahaman yang kuat akan urgensi mengapa koperasi ada dan memerlukan keseriusan lebih dalam mewujudkan asas dan tujuan KOKESMA ITB yang telah disebutkan tadi.
    • Apa yang bisa ditawarkan KOKESMA ITB sebagai manfaat?

pertanyaan ini hanya akan memberikan jawaban yang debatable dan mungkin terlalu hipokrit. Meskipun demikian, semua orang yang pernah menjadi pengurus KOKESMA pasti sepakat bahwa disini permasalahannya kompleks, bukan hanya menyangkut aspek keorganisasian dan manajemennya tetapi juga menyangkut usaha yang dijalaninya, bahkan usaha untuk terus bisa menyejahterakan karyawan dan anggotanya. Dari segala permasalahan yang ada itulah – justru – banyak pembelajaran dan manfaat bisa diekstrak. Karena, masalah di sekitar kita itu ibarat kekayaan alam yang tidak akan terasa dampaknya jika kita tidak mengambil dan mengolahnya menjadi sebuah solusi, atau sumber daya alam yang berguna bagi kita dan masa depan kita.

  • Cara pandang kita atas aspek KOPERASI dalam KOKESMA ITB harus diubah. Aspek KOPERASI bukanlah sekedar komoditas (sesuatu yang berguna) untuk mencapai suatu tujuan ingin diraih, tetapi merupakan aset (sesuatu-yang-berguna yang berkualitas). Kalimat ini dapat dianalogikan seperti perkembangan Sumber Daya Insani yang sudah berkembang dari frame ‘sumber daya’ ke frame ‘aset’, seperti yang terjadi di BUMN kita dengan terbentuknya Forum Human Capital Indonesia. Analogi tadi juga merupakan sebuah dorongan tersendiri bagi aspek Koperasi dalam KOKESMA ITB di tengah konsep knowledge capital (seperti yang dijelaskan dalam Alvin Toffler dalam the third wave, bahwa revolusi informasi melahirkan masyarakat pengetahuan) yang menjadi penentu daya saing sebuah entitas. Karena, anggota (manusia) adalah pemilik KOKESMA ITB dan mereka pun konsekuensinya menjadi ‘aset’ dalam KOKESMA ITB. Desakan perubahan bukan hanya sekedar dipengaruhi faktor tadi. Di ITB, sudah banyak wadah pembelajaran lain yang berada dalam satu domain dengan KOKESMA, baik itu domain ekonomi, atau pun wirausaha. Sebenarnya secara sepintas, semuanya memiliki kesamaan, yaitu pengembangan diri dalam hal kewirausahaan. Namun, banyaknya alternatif ini menuntut sebuah daya tarik yang khas – dan jika KOKESMA tidak memiliki ini KOKESMA akan semakin sulit berkembang. Aset KOPERASI – tentu saja selain manusianya – ini harus perlu dikembangkan agar memberikan daya ungkit untuk mewujudkan nilai tambah yang lebih nyata bagi KOKESMA ITB dan bangsa Indonesia.
  • Jika diselidiki, nilai koperasi hanyalah diusung oleh KOKESMA dari sekian banyak wadah pembelajaran yang sedomain dengan KOKESMA. Di sinilah memang kita seharusnya bertolak. dan ini memberikan suatu rujukan rasional yang lebih mengena dalam memberikan manfaat bagi anggota dengan usaha dan pembuktian dalam hal perwujudan jati diri koperasi dalam kehidupan KOKESMA ITB.
  • Ke depannya – sebagai bagian integral dari Indonesia – kampus ITB mestinya bisa berperan lebih bagi Bangsa Indonesia. Melahirkan sarjana yang bukan hanya ahli dalam bidangnya, tetapi juga merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat. Sarjana lahir dari mahasiswa dan mahasiswa adalah populasi terbesar kampus ini. Segala aktivitas mahasiswa di ITB tentu memiliki dampaknya, dan dampak ini merupakan output tersendiri – selain sarjana itu sendiri. Yang patut diperhatikan adalah dampak positif tidak akan tercipta dari aktivitas yang negatif. Marilah kita mulai berbuat lebih dan mau berusaha lebih untuk belajar banyak hal selama kita di kampus ini – sebelum kita menjadi sarjana, sebelum kita menjadi bagian dari masyarakat, sebelum kita ditanya di akhirat nanti tentang apa dampak manfaat atas ilmu yang yang diberikan Allah swt.

 

sebelum memulai, niatkanlah untuk Allah

Kita adalah generasi yang lahir di era globalisasi pasca revolusi industri jilid I dan II

era dimana produksi-serba-massal dan konsumsi-serba-massal (yang cenderung kapitalis, terkonsentrasi dan monopoilstik) | produksi massal membutuhkan kapital, dan membutuhkan juga konsumen yang massal. ada barang ekslusif produksi microsoft, melawan komunitas open-source

era dimana tumbuh suatu masyarakat pengetahuan, informasi terglobalisasi tanpa batas dari segala penjuru dan siapapun | masyarakat kelas menengah adalah kelompok paling dekat dengan informasi ini, alat komunikasi dan internet adalah instrumennya. tetapi butuh suatu iman (otoritas kuat) yang harus bisa menjadi benteng kita dan karakter kekritisan dalam mengolah segala informasi ini…apakah global warming sebuah doktrin politik ekonomi? agar industri bisa dikendalikan pertumbuhannya? apa buktinya? validkah data dan statistik pendukung global warming itu?

era dimana ekonomi mesti berkembang berdasarkan wawasan atau pengetahuan!

era dimana ilmu pengetahuan telah memasuki masa senjakala! ilmu hanya berkembang berdasarkan metode cartesian Descartes – memisahkan satu dan lainnya! | memisahkan crude oil hanya dengan distilasi apakah dapat dikatakan berkembang? (bukan contoh baik, karena “contoh dari pemikiran” bisa dihajar dengan contoh lain yang bersebrangan), intinya kita perlu belajar inovasi dari alam kita!

(dan)

era dimana transisi bauran energi dunia sedang terjadi, seluruh negeri baik secara rahasia atau terbuka, sedang mempercepat proyek energi bersihnya – dan membuang yang kotor-kotornya ke negara berkembang | contohnya rokok, dan kini Indonesia menjadi the new marlboro-country

_________________________

Kita hidup di era seperti ini kawan

apakah cukup dengan hanya belajar ilmu yang kita punya? teknik kimia?

kita harus mau belajar lebih dan belajar ilmu lain…teknik kimia dekat dengan industri, dan ekonomi

pelajarilah industri dan ekonomi.

teknik kimia tidak sekedar fisika, kimia, matematika dan biologi

teknik kimia adalah ilmu penunjang peradaban ke mana arah dunia tertuju, kendaraan utamanya adalah teknik kimia

contohnya:

pada revolusi industri jilid 1 ada mesin uap (oh please) ini adalah sistem utilitas – orang hebat perlu didukung orang hebat di sekitarnya – maknanya :industri perlu didukung orang hebat di sekitarnya, dan orang hebat di sekitarnya itulah “utilitas”

pada revolusi industri jilid 2, ada internal combustion engine (oh please) ini juga teknik kimia, bagian dari prime mover

tapi dibalik itu? internal combustion engine bkalau mau bekerja dengan baik butuh bahan bakar cair, dan itu minyak bumi

bagaimana cara dapetin gasoline-nya? butuh teknik kimia, dan dia berkembang dari sekedar CDU menjadi unit-unit cracking yang sarat makna rekayasa

oh please, teknik kimia itu luar biasa

_______________________

maka dari pada itu,saya ingin mengajak teman-teman belajar ilmu-ilmu lain penunjang teknik kimia agar negeri kita tidak sekedar menjadi negeri peripheral, yang disebut dalam teori core peripheral

bila kita meninjau teori core-peripheral, dengan negara-negara maju sebagai pusat teknologi yang memberikan sebagian teknologinya kepada negara-negara Dunia Ketiga, lalu negara Dunia Ketiga ini pun mengembangkan teknologinya yang sudah dibeli oleh negara di dunia maju, sehingga negara di dunia ketiga ini pun selalu kalah teknologinya.

ayolah para tunas muda teknik kimia mari belajar ilmu lain yang dapat menunjang keilmuan teknik kimia kita. kita butuh suplemen: ekonomi, biologi, mikrobiologi, dan lainnya

lalu dari mana kita belajar?

mari belajar dari hal simple dari omongan Pak Tatang, dicatet dan pulangnya di google coba atau cari bukunya atau cari jurnal ilmiah yang berkaitan dengan hal yang diceritakan dosen tadi (akses jurnal ITB berlimpah, cek harddisk komputer saya korbannya)

karena kita mahasiswa (ITB lagi),

mari belajar otodidak dari apa yang diomongin para pemimpin kita…dan kita cari bahan belajar yang menunjang agar kita mengetahui masalah dan kekurangan para pemimpin kita

supaya di masa depan, kita tidak terjebak pada rayuan lama dan kembali pada pacara lama (maksudnya jatuh pada lubang yang sama dengan alasan yang sama pula)

untuk mengkaji secara otodidak dan sendiri, contoh tulisan saya yang dibawah ini…ada kerangka-kerangkanya sedikit, jelas ini masih memiliki banyak kekurangan

tapi ini baik untuk pemula yang ingin belajar mengkaji, mengenal masalah, dan menyelaminya

dan coba juga jika sudah jauh – belajar mencari solusi (mumpung kita masih mahasiswa, masih banyak kesempatan emas belajar)

ingat

Kita adalah generasi yang lahir di era globalisasi pasca revolusi industri jilid I dan II

________________

contoh:

“Ekonomi akan tumbuh 6,5%, GDP tahun 2011 diperkirakan 820 milyar dollar AS. Mudah-mudahan tidak terlalu lama lagi, di tahun-tahun, mendatang bisa tembus 1 trilyun dollar AS, dan itu akan membuat sejarah. Pendapatan per kapita kita tembus sekitar 3400 dollar AS per orang per tahun. Ini juga patut kita syukuri” – Juragan

ini katanya http://www.kabarindonesia.com/beritaprint.php?id=20120103195708

ini tambahan ilusi dari fans ilusi-statistik

http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=blogsection&id=2&Itemid=26&limit=15

&…

padahal pak Sarkozy sudah membuat ini http://www.stiglitz-sen-fitoussi.fr/en/index.htm

dan Kuznets yg mengembangkan konsep GDP (1934)

berkata

“the welfare of a nation can scarcely be inferred from a measure of national income”

http://harpers.org/archive/2008/06/0082042

Juragan Juragan …

Kenapa GDP bisa tinggi ?

http://en.wikipedia.org/wiki/Gross_domestic_product

ada C ada hedonisme

ada X-M ada ekspor hasil ekstraksi kekayaan alam kita ke luar (bukan sumber daya alam ya namanya secara istilah, karena kita tidak mengolahnya tapi langsung jual)

perhatikan kalimat

“The difference is that GDP defines its scope according to location, while GNP defines its scope according to ownership.”

____________________

mangga bisa dipelajari

(karena ini penting, jangan sampai kita jadi generasi korban ilusi statistik atau ekonomi, karena kita tidak mau mencari tau atau sudah merasa nyaman)

Sebuah kebun belum tentu secara netto menyerap CO2

Bisa jadi, kebun bisa jadi mengemisikan CO2 secara netto…mengapa?

Perlu dihitung emisi CO2 yg dihasilkan dari fossil fuel yang digunakan untuk pupuk, herbisida pestisida insektisida, mesin traktor peminum fossil, dan sejenisnya yang digunakan untuk menunjang produksi kebun…

 

 

Dan berapa CO2 yg bisa diserap kebun tersebut ?

Ini pertanyaan besar..dan bgaimana caranya ?

 

Butuh neraca unsur (neraca massa dan energi)

 

Butuh juga transport phenomena

 

Butuh teknik kimia

 

- Kuliah Industri Pangan, THS

 

 

#

 

 

Sebuah tanah produktivitasnya bisa menurun jika ditinjau dr produk tanaman atau dari produk olahan tanamannya…mengapa? contohnya?

-

Mari kita belajar

Belajar dari industri gula dan produksi tebu Indonesia

-

Banyak unsur mineral tanah yang terbawa dalam komponen tanaman yang jika tidak dikembalikan ke tanah akan menurunkan produktivitas tanah dan tanaman tadi di kemudian hari…

Dan dalam puluhan tahun ke depan bencana akan datang!

-

Balik lagi ke tebu dan gula Indonesia

Tahun 1950, kita eksportir gula terbesar kedua di dunia

Tahun 2002, kita importir gula terbesar kedua di dunia

… silahkan gunakan google untuk mengecek ini dan mencari data produktivitas cane dan yield gula menurun!

-

Mengapa ini bisa terjadi?

Karena abu dari bagas dan tetes gula di ekspor oleh kita keluar,

Padahal banyak unsur-unsur mineral makro mikro yang dibutuhkan tanah (yang tidak bisa dpenuhi pupuk) juga unsur-unsur pokok C-H-O dalam bagas dan tetes gula tadi tidak kembali ke konfigurasi pelestarian kesuburan tanah

Padahal konfigurasi ini membentuk sebuah siklus!

-

Akhirnya sistem pelestarian yang mendukung kesuburan tanah akan mengalami kegagalan

ingat, konfigurasi ini membentuk sebuah siklus yang bekerja untuk menjaga kesuburan tanah dan produktivitas tanaman

-

dan bahanya lagi,

jika sekarang kita mengekspor biomassa (dan ternyata kita sudah, pellet kita diekspor ke UE dan Korea)

-

di masa depan

tanah kita yang dahulu disebut tanah surga bisa berubah menjadi neraka!

padahal gula adalah peninggalan Belanda – sejak jaman Minke

- KULIAH INDUSTRI PANGAN, THS

Siapa mahasiswa TK ITB yang tidak tahu Prof Tjandra?

beliau adalah salah satu dari dua Profesor yang kini masih aktif mengajar di TK ITB…

Walapun belum pernah diajari langsung

sebagai mahasiswa TK ITB yg cukup memperhatikan…

saya rasa dedikasi Prof Tjandra pasti luar biasa…pendokumentasian di koridor ruangannya sudah banyak menggambarkan kalimat saya sebelumnya…

———————————————————

mungkin tidak banyak mahasiswa lain yang tahu,

tapi saya ingin share dari tulisan pidato ilmiah Prof Tjandra yg berjudul “Peranan Teknik Bioproses dalam Mewujudkan Masyarakat Berkelanjutan”

dari mana saya tau? kok saya tau?

meskipun saya anak TP – Teknologi Pangan dan bukan TK UMUM – ilmu tidak dibatasi subjur, Pak…

dari tulisan Prof Tjandra Setiadi (pidato ilmiahnya sebagai guru besar ITB):

dimulai dari hasil KTT Bumi Rio de Janeiro 1992 sampai hasil-hasil penelitiannya yang berperan dalam mewujudkan masyarakat berkelanjutan…

dijelaskan dan ditekankan juga bahwa pengembangan bioproses membutuhkan kerjasama antar-disiplin (agar menjadikannya sebagai senjata utama membangun masyarakat berkelanjutan) dari pada kita meributkan istilah atau terminologinya yang membuang energi… (mungkin ini menyinggung keributan mau masuk TK atau SITH kayaknya nih)

saya tertarik menggali lebih jauh tentang 3BL – yang ternyata memang dijelaskan disini – sebelumnya saya membahas 3BL di tulisan Kontemplasi yang lalu

saya semakin percaya bahwa penerapan gerakan kemahasiswaan sekarang harus memenuhi kriteria 3BL ini. karena dimasa depan, konsep masyarakat berkelanjutanlah yang dapat menghindari bencana global atas perkembangan buruk dari Bumi kita tercinta ini….

lalu sebagai mahasiswa di masa kini: konsep membangun gerakan ini mestilah dimulai dan diperdalam, baik secara makna sebenarnya atau pun secara falsafahnya

——————untuk saat ini, saya akan share intisari dari pidato ilmiah Prof Tjandra————————-

Permasalahan kita saat ini?

bumi menjadi bak sampah manusia. terjadi 2 peristiwa masif saat ini, peningkatan secara terus menerus populasi global dan terus memburuknya kondisi lingkungan

SDA (juga air, tanah dan bahkan keanekaragaman hayati) terus tertekan…

dari permasalahan ini, kita mendapatkan urgensi untuk menjaga kapasitas lingkungan agar dapat melakukan fungsi-fungsinya dengan baik…

selanjutnya, menusia sebagai pihak yang paling bertanggungjawab

harus bisa menanggapi ini sebagai tantangan (kondisi permasalahan yang menuntut suatu kemampuan baru yang masih harus dicari dan dikembangkan)…

3 tantangan yg paling menonojol:

1. pesatnya laju pertumbuhan populasi manusia di bumi…

2. bumi terpecahbelah menjadi dua dunia (utara-negara maju dan selatan-negara berkembang)

3. perkembangan iptek yang secara umum masih bercirikan eksploitatif (menghasilkan limbah tinggi dan tidak hemat energi)

jika ketiga tantangan tadi tak bisa diselesaikan maka akibatnya adalah:

1. krisis air bersih

2. berkurangnya lahan pertanian

3. menipisnya kawasan hutan

4. pencemaran dan perusakan ekosistem pantai dan laut

5. peningkatan beban pencemaran ke udara dan atmosfer

lalu apa yang dapat kita lakukan?

usaha yang harus dilakukan adalah bagaimana mengatur berbagai upaya untuk mencapai kesetimbangan di bumi ini!

pencapaian kesetimbangan yg dapat menunjang kebutuhan manusia saat ini dengan tidak mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan yang mereka perlukan dikenal sebagai “keberlanjutan” (sustainable)

dan masyarakat yang berusaha menciptakan kondisi seperti itu disebut sebagai masyarakat berkelanjutan (sustainable society)

lalu apa kriteria dalam mewujudkan berbagai suaha tadi?

3BL! planet (lingkungan) profit (ekonomi) people (sosial)!

mungkin profit bisa menjadi daya tawar dalam menghadapi tantangan zaman dimana orang2 sekarang cenderung pragmatis (analisis saya – dibahas nanti saja ini)

dari sini…

dengan kemampuan manusia yang sudah dapat memanipulasi kehidupan pada tingkat yang sangat dasar dan sistem biologi adalah sistem yg sangat rumit namun tersusun rapi dan indah, tetapi sistem ini juga tetap mengikuti aturan-aturan kimia dan fisika dan dapat dipengaruhi oleh analisis teknik…

maka teknik bioproses semestinya bisa memprediksi sel hidup dan menggunakan proses-proses yang dibangun secara rasional pada tingkat komersial dalam membangun visi dan harapan baru di masa depan

SARJANA TEKNIK MEMPUNYAI PERAN YANG MENDASAR DALAM MENGUBAH VISI TERSEBUT MENJADI KENYATAAN

teknik bioproses bekerja pada garis batas antara biologi dan ilmu teknik untuk “Membawa Teknik ke Kehidupan” melalui konversi materi biologi menjadi bentuk lain yang diperlukan oleh umat manusia…

ayo: bahan bakar nabati / biofuel, biomaterials, teknologi sistem fermentasi, pengolahan limbah, sistem pemrosesan pangan, pemisahan produk, sistem dan instrumentasi proses biologi dan berbagai aplikasi lainnya!

Prof Tjandra kemudian menceritakan penelitiannya dalam bidang bioreaktor membran, plastik biodegredabel, proses anaerobik limbah industri, dan lain lain yang sangat erat kaitannya dalam peran bioproses yang sifatnya ekologis

di akhir Prof Tjandra menyampaikan tentang penelitian-penelitian yang perlu dikembangkan di TK ITB:

1. pemecahan lignoselulosa

2. industri bioproses hemat energi, kompak, berbiaya rendah dan menghasilkan produk yg menggantikan produk berbahan baku dr fosil

3. proses hilir

4. pengambilan dan pembuatan produk berharga dari limbah

5. teknik pengendalian dalam bioproses

6. pengembangan bioproduk pangan

———————————————————————————————————————-

kesimpulan

1. mau sampai kapan kita diam saja? dunia utara sudah sekian tahun didepan kita…mereka akan menajajah kekayaan biomassa kita di masa depan…mau menjadi tamu di tanah sendiri lagi?

2. yakin belajar ilmu teknik kimia saja sudah cukup?! ayolah, pelajari biologi, biokimia, ekonomi, sosiologi, politik, dan lainnya juga! termasuk softskill! (saya mungkin awalnya tidak suka biologi, tapi belajarlah mencintai – dari manfaatnya)

3. kita tetap ga akan bisa sendiri juga: ingat semakin ke depan tantangan semakin sulit dan integrasi keilmuan semakin krusial…ayo kerjasama antar disiplin!

4. itb pengen anak2nya jadi pemimpin dan pemimpin adalah sumber solusi! mari terus belajar dan praktikan!

5. ayo bangun mimpi untuk membuat Indonesia lebih baik, Indonesia mandiri, Indonesia tersenyum :)

——————————-

bismillah, di masa depan:

saya akan membangun kompleks bioenergi dari hulu ke hilir yang terintegrasi, ekologis, dan bermanfaat bagi masyarakat

Saat-saat sekarang saya baru banyak diskusi sama kak As’ad Arifin 13007097 TK’07

sungguh beneran: banyak nilai yang sangat bagus yang ga sampai ke angaktan kami: 2009

tapi ga pernah ada kata terlambat buat belajar bingung mulai tulisan dari manatapi inilah kontemplasinya…

tapi gaya abstrak, radikal, saya tetap dipertahankan

( baca: ga jelas dan susah dimengerti, kompleks – maaf INFJ disini :D )

tapi silahkan sajalah—————————————————————————————————————

 

himpun, berhimpun : berkumpul

himpunan : kumpulan benda konkret/abstrak yang dapat ditumpuk atau dibedakan dengan jelas

bahkan kalau kata matematika, anggota himpunan yang sama ga diitung sebagai dua anggota…contoh jika H adalah himpunan yang menyatakan huruf pembentuk kata “makan” maka anggota himpunan H adalah M, A, K,N (jadi, wajar kalau anggota himpunan itu “berbeda-beda” – dan itu bukan masalah – sampai sebatas mana batas kewajaran bedanya, itu lain lagi persoalannya – dibahas nanti saja)

 

setiap anak TK ITB yang kuliah disana akan lulus sebagai sarjana TK ITB. lulus sebagai sarjana TK ITB mungkin lulus – tapi yakinkah udah jadi “sarjana”? soalnya, ada istilah “sarjana yang utuh”?

istilah apa lagi ini? siapa yang buat istilah ini?

benar itu – kalau udah dinyatakan lulus (kompre, kalau di TK), otomatis sudah jadi sarjana…sarjana TK ITB, udah lulus berdasarkan kurikulum prodi… tapi masalahnya, apa kurikulum dr prodi udah cukup? atau mungkin masih kurang? atau mungkin berlebihan? sampai dimana prodi menganalisis kebutuhan sarjana teknik kimia untuk indonesia? lalu apa benar kita dididik untuk indonesia? coba cek lagi visi prodi apa dan tujuan pendidikan prodi apa?

 

seberapa sering kita mendengar “bangsa kita/indonesia” dari mulut dosen? seberapa sering kita melihat slide dosen bertuliskan “bangsa indonesia”? kenapa kalau dapat “cobaan akademik” dibalasnya: “sudahlah di industri nanti juga pasti berat”? industri apa? siapa industri?

 

oke, masih merasa kurang ilmu yang bisa didapat dari prodi?

buat saya ya

lalu apa yang kurang?

setelah lulus saya akan menjadi bagian dari masyarakat – harus seperti apa saya disana? bagaimana saya hidup dengan masyarakat lain (yang lebih tua, lebih lama) nanti? mesti bagaimana saya? yah itulah pertanyaan (atau kompetensi) yang saya (tau) tidak pernah saya dapatkan langsung dari kurikulum prodi (mungkin kalau ada cuma sedikit sekali, dari cerita dosen, masih asesoris saja). kalau pun saya dapat itu, saya cuma tau teori saja. bagaimana saya mendapatkan cara-cara hidup ini? saya tidak tau – tapi saya cuma tau model belajar seperti ini cuma bisa di himpunan atau di unit. di sinilah tempat paling mungkin saya belajar bermasyarakat sebelum bermasyarakat. di himpunan malah ada pengabdian masyarakat, bisa hidup bersama masyarakat dan mencoba membantu mereka. dan disinilah tempat belajar bermasyarakat yang saya inginkan. tapi masyrakat disini berkembang sangat jauh dengan masyarakat disekitar. informasi bergerak sangat cepat dan tak terkendali – dunia sedang mengalami globalisasi informasi – revolusi informasi melahirkan masyrakat pengetahuan (baca Alvin Toffler: the third wave – post-industrial society).

inikah masyarakat pengetahuan? bahkan saya sendiri tidak bisa mengimbangi arus informasi yang bergerak, secara fisik dan maya. bahkan anggota masyarakat lebih dekat dengan alat penghubungnya dengan dunia dari pada “dunia” itu sendiri. menyapa di dunia nyata sulit sekali rasanya – entah berat atau canggung. sulit sekali mewujudkan kegiatan “gotong royong” yang melibatkan hampir seluruh anggota masyarakat. sulit sekali mencapai kesepakatan bersama bahkan untuk mewujudkan kepentingan seluruh masyarakat. dan tidak ada orang yang benar-benar bisa dijadikan contoh. lalu, kemana perginya sang tokoh masyararakat disini? yang suaranya sangat didengar oleh masyarakat dand ipercaya masyarakat ini? mungkin ini adalah “dunia” sekarang yang harus kita terima – tapi segampang itukah? saya masih tidak percaya dan memilih untuk tidak percaya jika hal-hal tadi adalah hal yang benar dan harus diterima begitu saja.

 

bahkan yang saya tangkap, tempat belajar bermasyarakat saya bingung dimana menempatkan sopan santun dan profesionalisme? lebih tinggi lagi, dimanakah Pancasila berada bahkan saya tidak tau – yang dahulu digali dari kehidupan di desa…

 

dimanakah perginya kearifan lokal yang bisa dan ingin saya pelajari dan saya praktekan? lalu masih layakkah tempat ini menjadi tempat belajar bermasyarakat? padahal bentuk masyarakat di organisasi kampus ini adalah bentuk bayangan masyarakat di masa depan bukan? lalu bagaimana jadinya dunia 30 tahun lagi? bagaimana jadinya bangsa kita 30 tahun lagi? siapa yang akan didengar? apa pemimpin di masa depan masih akan didengarkan rakyatnya? sampai sekarang saya masih belajar hal praktek ini dari mengamati lingkungan, saya harus membaca kecendrungan kemana masyrakat ini akan bergerak. masyarakat aktif demokratis yang (mendekati ideal) masih saya rasakan adalah masyarakat yang saya pelajari dari bung Khairidda N (TA’09) di kediamannya di Permata Cimahi Bandung Barat untuk waktu sekarang dan dulu sekali ketika saya SD di rumah nenek saya di Cigadung, Pandeglang. bagaimana kehidupan heterogen yang ada disana tapi tetap saling mengenal dan akrab, bagaimana kehidupan demokrasi digerakkan secara nyata dan oleh berkumpul langsung, bagaimana demokrasi substansial tumbuh (diupayakan untuk tumbuh), bagaimana kepemimpinan masih dirasakan dan didengar, bagaimana kepentingan umum dan kepercayaan masih diutamakan, bagaimana pengorbanan untuk masyrakat sangat diutamakan, bagaiamana tolong-menolong dilakukan tanpa itung-itungan, bagaimana akrabnya pergaulan dan kekayaan bahasa daerah yang terasa dan unik…sungguh nikmatnya menikmati kehidupan timur, kearifan lokal – saya meminjam istilah dari UGM: “kearifan lokal” (think globallly, act locally)

 

tapi, sampai saat ini saya masih berfikir dan yakin: kalau organisasi ini adalah wadah perkumpulan yang tempat belajar bermasyarakat sebelum kita menajadi masyrakat di masa depan nanti. dan selama kita adalah sarjana dan kita dari itb – ga semua bisa kuliah di tempat kaya itb dan ga semua tempat kuliah kaya itb – maka selayaknya kita menjadi bagian penting di masyarakat, membantu mendidik masyarakat agar mempu mengarahkan peradababan ke arah yang baik dan berkelanjutan sambil tetap menghormati terhadap nilai-nilai lokal yang ada dan menjaga kearifan lokal untuk tetap hidup (tidak matematis untung rugi). dan selama masih belajar – harusnya apa yang diajarin (kaderisasi/pendidikan) di himpunan beda sama yang diajarin prodi sekarang (ini akan dan harus dipikirkan lebih dalam lagi – sementara segini dulu)…di jaman revolusi informasi yang melahirkan masyarakat pengetahuan ini – mahasiswa membutuhkan kaderisasi yang membentuk kekritisan yang sangat tinggi dan terarah. dan semua kegiatan organisasi haruslah (dan adalah) kaderisasi. masyarakat pengetahuan adalah masyarakat yang sanggup bertahan dalam era globalisasi ini – kekritisan adalah kuncinya serta sigap dan cerdas dalam menanggapi perubahan – karena semakin ke depan perubahan adalah suatu keniscayaan…tetapi ingat PENGENDALIAN PROSES: bagaimana mengenal dan mengatasi setiap gangguan dan perubahan yang wajar dan tidak wajar sambil dengan tetap menjunjung nilai-nilai yang dipegang.

 

cobalah berfikir juga: pak Tatang, pak Herri, pak Tjandra yang sebegitu hebat-hebatnya saja masih belum bisa benar-benar mengubah Indonesia (paling tidak sesuai dengan idealisme mereka) – generasi penerus harus lebih hebat dari mereka dan generasi penerus harus melahirkan pemimpin yang lebih hebat…dan proses pelahiran inilah yang dinamakan kaderisasi atau pendidikan – penerus harus lebih baik dari pendahulu – itu baru berhasil.

 

kalau kata bang lendo novo, kira-kira begini (dari cerita kak As’ad Arifin TK’07) “seharusnya kalian lah (mahasiswa) yang paling tau mesti bergerak bagaimana seperti apa dan ke arah mana di zaman sekarang ini – cara dahulu mungkin sudah tidak relevan dengan kondisi zaman sekarang…dan sekarang bukan kami lagi yang menentukan. justru saat menjadi mahasiswalah kreativitas itu muncul – karena dahulu ketika kami menjadi mahasiswa, untuk bergerak seperti dahulu itu, kami lah yang memilih”

 

mungkinkah gerakan kesinambungan yang harus segera digalakkan sekarang? gerakan yang mengarah pada triple bottom linekah: people, planet, profit sebagai organisasi? profit yg saya maksud mungkin entrepreneurship (yang bsia jadi menjadi the next ruling class – di zaman materialisme ini) karena 3BL tadi bukan hanya milik perusahaan saja tapi juga organisasi – people : human capital berarti kaderisasi karena manusia bukanlah sumberdaya tetapi aset di zaman masyrakat pengetahuan ini (era revolusi informasi) – planet : natural capital berati berarti menjaga lingkungan dan bersahabat dengan alam – profit : keuntungan berarti memberikan nilai tambah bagi lingkungan sekitar ide yg sangat masih mentah dan asal (intuitif INFJ-nya keluar – ayolah baca pidato guru besar Prof. Tjandra dulu)

 

bangsa ini masih akan merindukan negarawan…

Sekali lagi tentang Himpunan

Posted: November 4, 2011 in Share
Tags: , ,

Secara sturktural dan konstitusi, himpunan adalah organisasi sentral dalam sistem KM ITB karena himpunan menjadi basis dalam KM ITB. Namun, secara kultural sendiri, himpunan adalah organisasi mahasiswa terdekat yang menaungi berbagai mahasiswa ITB dalam satu program studi atau satu fakultas.

 

 

Himpunan bukan hanya sekedar untuk membantu memenuhi kebutuhan sosial mahasiswa untuk berkumpul atau pun untuk membantu mahasiswa dalam hal akademik karena corak keprofesiannya, tetapi himpunan juga berdiri untuk tujuan yang mulia dalam gerakan mahasiswa. Himpunan menjadi wadah dalam membantu mahasiswa untuk bergerak membantu masyarakat dan juga menjadi wadah terdekat dan pertama bagi mahasiswanya dalam melakukan kontrol sosial, tentu dengan cara mereka masing-masing. Himpunan juga menjadi tempat mahasiswa berbagi suka cita dan bersama-sama mengembangkan hobinya. Corak pergerakan setiap himpunan di ITB memiliki ciri khasnya masing-masing karena kulturnya yang berbeda yang dipengaruhi banyak hal. Tetapi setiap himpunan pasti memiliki tujuan yang baik dengan cara yang berbeda tersebut

 

 

Himpunan juga bukanlah perusahaan atau pun EO, dalam himpunan setiap kegiatan adalah sepatutnya menjadi bentuk kaderisasi bagi setiap anggotanya. Himpunan seharusnya mengedepankan nilai-nilai humanisme dan patriotisme. Pengorbanan kita di himpunan memang berat dan secara materiil tidaklah sebanding dengan apa yang kita dapatkan, tetapi sebagai seorang mahasiswa, justru itulah perjuangan dan tantangan yang harus dihadapinya sebelum memasuki dunia nyata dalam masyarakat dan Negara, dan juga sebelum menjadi seoarang pemimpin bangsa yang memiliki mental negarawan bukan mental transaksional dan individualis.

Esensi Keberadaan …

Posted: November 4, 2011 in Share
Tags: , ,

Keberadaan ITB adalah untuk menjawab harapan bangsa ini untuk bisa hidup mandiri dan lebih menyejahterakan masyarakatnya. Apalagi teknologi  adalah  kekuatan dan sendi pembangunan suatu Negara. Jadi, kemajuan suatu pendidikan yang ada di ITB tersebut akan menjadi tolok ukur pembangunan negeri ini. Sebagai institut teknologi yang memiliki tenaga pengajar yang sangat bagus, fasilitas yang lengkap dan sebagai institut yang terus berkembang, selayaknya ITB yang suka disebut sebagai Institut terbaik Bangsa – karena mendapatkan input bibit muda terpintar Negara – mesti bisa menjadi institusi pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral pendidikan, menyajikan riset mutakhir yang juga menjawab kebutuhan untuk industri bangsa kita dan mampu memberikan lulusan terbaiknya yang bisa berkarya atau berkontirbusi dan memberikan solusi bagi persoalan bangsa Indonesia.

 

 

Keberadaan ITB bagi bangsa Indonesia tidak pernah dianggap tidak penting. Sebagai salah satu PTN juga, ITB masih dibantu pemerintah tentang masalah biaya (meskipun dalam PP 66/2010 peran pemerintah “berkurang”). Artinya, setiap mahasiswa yang kuliah di ITB menerima subsidi sehingga mahasiswa itu tidak perlu membayar mahal lagi biaya kuliahnya. Hal ini menunjukkan suatu kepercayaan dari pemerintah akan pentingnya pembangunan Human Capital bagi masa depan bangsa. Selain itu, sebuah kewajaran juga bila masyarakat Indonesia secara umum atau masyarakat sekitar ITB secara khusus – yang telah membayar pajak ke pemerintah sehingga dana ini digunakan untuk subsidi tadi – menaruh harapan besar mereka pada mahasiswa-mahasiswa ITB itu sendiri.

 

Sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan, mahasiswa ITB harus bisa membentuk tatanan kehidupan masyarakat yang lebih baik di masa depan. Tanggung jawab moral mahasiswa ITB ini harus disadari oleh seluruh mahasiswanya. Dalam menghadapi tantangan yang berat ini, mahasiswa ITB membutuhkan suatu wadah aktualisasi diri sebagai alat untuk menajwab tantangan tersebut. Sementara itu, pimpinan ITB sendiri menyadari juga bahwa pendidikan dalam bangku kuliah (akademik) saja tidaklah cukup, sehingga diperlukan bentuk pendidikan lain yang menunjang penididkan di bangku kuliah tersebut. Selain itu dari sisi mahasiswa sendiri, pasti kita sadar bahwa pendidikan lewat bangku kuliah (hardskill) saja tidaklah cukup untuk kita – dan tanpa perlu menyadari alasan filosofisnya – kita secara sadar membutuhkan suatu wadah untuk berorganisasi. Inilah alat lain yang kita butuhkan sebagai mahasiswa ITB yaitu organisasi kemahasiswaan untuk seluruh mahasiswa ITB. (dan) sekarang ini kita sudah memiliki KM ITB sebagai organisasi mahasiswa yang mewadahi seluruh mahasiswa ITB. Jadi, pada intinya Bangsa kita sendiri, Indonesia, membutuhkan KM ITB. Indonesia butuh KM ITB yang kelak akan menghasilkan alumni yang bukan hanya cakap dalam memangku jabatan atau mengembangkan ilmunya saja, tetapi alumni yang juga mau mengenal dan peduli pada masyarakat, mau berkorban untuk kesejahteraan rakyatnya, tulus dalam berusaha, berorientasi pada kemakmuran rakyat, serta siap menjadi besar karena ikut membesarkan orang lain.

 

 

KM ITB berdiri dan hidup untuk wadah aktualisasi diri mahasiswa ITB sebagai agen perubahan. Disinilah karakter seorang calon pemimpin bangsa akan dibentuk dan karakter inilah yang akan terus melekat secara permanen dalam diri kita. Setelah lulus kita memang pasti mendapatkan ijazah, tetapi ijazah ini hanyalah sebuah kertas buatan manusia yang bisa hilang, rusak, atau pun terbakar. Namun, karakter yang kita bentuk dan ditempa selama menjadi mahasiswa adalah sesuatu yang akan melekat terus dalam diri kita nanti kedepannya. Jadi, sudah selayaknya jika kehidupan kemahasiswan KM ITB mampu membentuk watak dan karakter yang baik bagi mahasiswa ITB itu sendiri. (dan) bagi mahasiswa sendiri penting bagi kita untuk dapat menikmati setiap perjuangan yang kita lakukan selama di kampus ITB.

Phillip G Altbach – Hakikat dari Gerakan Mahasiswa adalah Perubahan.

 

Gerakan mahasiswa ITB sejak dahulu sudah memberikan suatu kontribusi besar bagi bangsa ini. Gerakan mahasiswa sejak dahulu bersuara untuk menyikapi banyak hal dalam kehidupan bangsa ini dalam hal sosial, ekonomi dan politik bangsa Indonesia. Artinya mahasiswa ITB sangat peduli, kritis dan mau memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan juga kemanusiaan dalam kehidupan bangsanya, tidak hanya membicarakan hal-hal yang bersifat internal kemahasiswaan saja.

 

 

Memang setiap zaman memiliki tantangannya masing-masing, tetapi itu tidak berarti membuat kita melupakan semangat dan daya juang mahasiswa ITB zaman dahulu. Sikap heroisme para pendahulu itulah yang sebaiknya kita warisi dengan memperjuangkan lewat cara kita sendiri sesuai dengan tantangan zaman di era globalisasi yang kita hadapi sekarang.

                Mahasiswa ITB memang selayaknya memiliki kesadaran untuk memperjuangkan nasib masyarkat dan harga diri bangsanya. ITB sebagai institut yang mendapatkan mahasiswa yang memiliki kecerdasan tinggi dari seluruh Indonesia harus mampu menjadi pemimpin dalam hal pembangungan sains, teknologi, seni dan manajemen. Aset human capital terbesar dan terbaik bangsa ada di ITB. Jadi, sudah sebaiknya kalangan terpelajar ITB menjadi agen-agen perubahan bangsa ke arah yang baik bukan sebagai agen perusak bangsa ini.

Untuk menjadi pemimpin bangsa di masa mendatang yang akan menghadapi tantangan zaman yang lebih berat untuk membentuk tatanan kehidupan bangsa yang lebih baik, mahasiswa ITB memiliki alat dalam menjawab tantangan tersebut yaitu organisasi mahasiswa. Disinilah mahasiswa ITB belajar untuk memenuhi kebutuhannya, belajar untuk mengembangkan dirinya dan juga mulai belajar untuk berkontribusi untuk kehidupan masyarakat. Mahasiswa ITB memang sudah seharusnya mengenal rakyatnya agar kelak ketika sudah lulus nanti mau memperjuangkan rakyatnya yang juga sudah membiayai pendidikannya lewat subsidi. Rakyat Indonesia sendiri membutuhkan alumni ITB yang bukan hanya bisa bekerja dan mengembangkan ilmu dengan baik tetapi juga berintegritas, kritis dan mau berorientasi pada kemakmuran rakyat.

 

 

Saat ini mahasiswa ITB memiliki sistem KM ITB yang mewadahi seluruh kebutuhan mahasiswa ITB. Disinilah wujud nyata laboratorium bagi mahasiswa ITB untuk belajar. dalam KM ITB, ada Kabinet, Kongres, HMJ, Unit, Tim Beasiswa, MWA (adhoc). Kabinet adalah eksekutif, pelaksana, dan jika diibaratkan seorang ksatria, kabinet adalah ujung tombak yang menghujam dan menimbulkan dampak nyata dalam gerakan mahasiswa ITB, sedangkan kongres adalah representasi seluruh tubuh sang pemegang tombak yang mengarahkan ke mana tombak harus dihujamkan. HMJ adalah selayaknya harus dimasuki seluruh mahasiswa ITB, karena HMJ-lah yang menjadi wadah terdekat bagi seorang mahasiswa ITB dan HMJ juga lah yang mengirimkan perwakilannya ke kongres.

Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian karena manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tidak bisa dipenuhinya walaupun itu merupakan kebutuhan primer. Manusia hidup berdampingan dengan yang lainnya dan saling memenuhi kebutuhan masing-masing atau kebutuhan bersama baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebersamaan atau bersatunya manusia diwujudkan dalam banyak tujuan bersama, baik itu tujuan ekonomi, sosial, ataupun politik.

Sejarah juga mencatat bahwa setelah bersatunya pemuda bangsa ini pasca sumpah pemuda, perjuangan kemerdekaan dapat lebih kuat dan pemuda pun berperan luar biasa bagi kemerdekaan. Pemuda saat itu dapat menyatukan potensi diri dalam berfikir dan semangat untuk bergerak, sehingga dengan kekuatan idealisme dan semangat kebangsaan mereka dapat memberikan satu kontribusi yang besar dan melampaui zamannya. Selain hal tersebut, dorongan bergerak tersulut oleh keprihatinan akan penindasan rakyat oleh pemerintah kolonial.

Dalam konteks pemuda terpelajar sekarang atau mahasiswa masa kini, mereka memiliki suatu organisasi mahasiswa dimana sekelompok mahasiswa dengan kesamaan tertentu, bersatu dan mencoba mewujudkan potensinya untuk suatu tujuan bersama yang telah dibuat. Organisasi mahasiswa ini pada dasarnya adalah suatu bentuk alat konkrit dari peran pendidikan bagi manusia. Tidak lah perlu penjelasan filosofis lagi, bahwa kita pun sadar sebagai mahasiswa, bahwa secara alamiah, adalah tidak cukup jika kita hanya mengandalkan pendidikan formal saja, yaitu pendidikan dari bangku kuliah. Kita sadar bahwa kita juga butuh pendidikan informal, maka mahasiswa membentuk atau bergabung ke dalam suatu organisasi, lalu disinilah tempat kita bersatu, memenuhi kebutuhan kita dan mengembangkan diri kita. Kesadaran untuk berorganisasi ini secara alami tumbuh tentu juga sebagai akibat karena sifat alami kita sebagai mahluk sosial.

Saat ini, karena faktor ruang dan waktu, bentuk kebersamaan manusia juga mahasiswa mungkin bisa saja berubah terutama di zaman globalisasi sekarang, dimana teknologi informasi memberikan suatu tantangan bagi sebuah budaya kebersamaan sesama manusia. Akibat dari hal ini adalah suatu revolusi informasi dimana dengan media-media yang ada, jalinan komunikasi atau segala informasi dari belahan dunia manapun bisa diakses dengan mudah. Tetapi kemudahan ini juga justru dapat memberikan paradoks, karena kondisi ini dapat menghasilkan manusia yang lembam, sulit bergerak, karena dimanjakan dengan banyak hal yang instan seperti kemudahan akses informasi dan komunikasi tersebut.

Sekarang pun disekitar kita, kemahasiswaan ITB, sedang dijangkiti virus kultur budaya popular, ini pun sebagai efek dari globalisasi informasi dan komunikasi. Saat ini, kultur seperti budaya popular, semakin individualis, hedonism dan pragmatism menjadi pemandangan yang sudah tidak aneh lagi. Kebebasan media massa memang memunculkan budaya pop dikalangan mahasiswa. Individualis mencerminkan suatu sifat mahasiswa yang mencari apakah diri mereka memiliki kepentingan terhadap lingkungan atau tidak. Hedonisme dan pragamtisme mahasiswa ITB tidak bisa dilihat dari kacamata hitam putih. Hedonisme adalah konsekuensi dari kebebasan informasi sedangkan pragmatism muncul dari ketidakpastian nasib bangsa kita sendiri. Apalagi ini telah dicontohkan sebagian pendahulu kita, betapa idealism dengan mudahnya luntur di dunia nyata kelak. (buku putih perjuangan mahasiswa ITB 2008)

 

 

Dalam rezim teknologi informasi yang tak mengenal batas ini, revolusi informasi telah menghasilkan masyarakat pengetahuan. Masyarakat pengetahuan mengenal keunggulan ide, intelektualitas, dan hak kekayaan intelektual menjadi sesuatu yang berharga. Ini juga yang mengakibatkan bahwa perebutan informasi, citra, dan pengetahuan untuk bertahan hidup dan menguasai sesuatu. Efeknya adalah media berperan penting dalam membuat opini dan citra seseorang menjadi suatu hal yang harus dijaga apa lagi jika tidak semua orang memiliki sifat kritis dan tidak semua orang memiliki pengetahuan – sehingga mudah terjerumus ke dalam suatu jebakan media atau citra. Dalam mengolah fenomena ini, peran masyarakat kelas menengah sangatlah penting. Siapa itu masyarakat kelas menengah? Masyarakat kelas menengah menurut Richard Robison, dalam struktur ekonomi politik, adalah kalangan intelektual, teknokrat, manajer profesional, pengacara, aktivis LSM, aktivis partai politik, aktivis mahasiswa, dan pengusaha menengah bawah. Sedangkan menurut ADB, dengan penghampiran absolut, masyarakat menengah adalah masyrakat dengan batasan pengeluaran per orang sebesar 2-20 dollar AS setiap hari. Disinilah kita mengetahui peran nyata kita sebagai mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang perlu kita ketahui adalah masyarakat kelas menengah Indonesia adalah yang terbesar ketiga setelah China dan India. Inilah potensi bangsa kita untuk dapat memanfaatkan era ini dan bangkit menuju kemandirian.

Sebagai suatu golongan yang memiliki pengetahuan tinggi dan wawasan luas, seorang mahasiswa adalah golongan yang selalu dielukan (karena independensinya, bebas kepentingan) dan paling diharapkan oleh rakyat yang tertindas juga pemimpinnya untuk mampu memberikan perubahan. Hatta merumuskan bahwa pendidikan tingi yang ditempuh mahasiswa harus dapat mewujudkan insan yang memiliki keinsyafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakatnya. Inilah tanggung jawab moral yang langsung diemban sekitar 18,4 % pemuda Indonesia usia 17-24 yang berstatus mahasiswa dari total 25 juta jiwa. Tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa yang kelak akan memimpin bangsa harus sudah belajar bukan hanya ilmu yang ditekuninya tetapi juga belajar untuk memimpin, belajar untuk berkorban dan juga belajar untuk menghargai dan menghormati orang lain termasuk mereka yang tertindas, kelaparan dan harus untuk dibela kepentingan dan hak hidupnya.

Dari sini tentu kita ketahui, pembelajaran mahasiswa yang seperti tadi tidak didapat dari bangku kuliah, tapi didapat dari hal lain seperti organisasi mahasiswa atau pengalaman lain yang relevan. Organisasi mahasiswa ini menjadi laboratorium bagi mahasiswa untuk menunjang pembelajarannya dan kehidupannya kelak dalam menjawab tantangan zaman di masa kini dan membentuk tatanan masyarakat di masa depan…