Siapa mahasiswa TK ITB yang tidak tahu Prof Tjandra?

beliau adalah salah satu dari dua Profesor yang kini masih aktif mengajar di TK ITB…

Walapun belum pernah diajari langsung

sebagai mahasiswa TK ITB yg cukup memperhatikan…

saya rasa dedikasi Prof Tjandra pasti luar biasa…pendokumentasian di koridor ruangannya sudah banyak menggambarkan kalimat saya sebelumnya…

———————————————————

mungkin tidak banyak mahasiswa lain yang tahu,

tapi saya ingin share dari tulisan pidato ilmiah Prof Tjandra yg berjudul “Peranan Teknik Bioproses dalam Mewujudkan Masyarakat Berkelanjutan”

dari mana saya tau? kok saya tau?

meskipun saya anak TP – Teknologi Pangan dan bukan TK UMUM – ilmu tidak dibatasi subjur, Pak…

dari tulisan Prof Tjandra Setiadi (pidato ilmiahnya sebagai guru besar ITB):

dimulai dari hasil KTT Bumi Rio de Janeiro 1992 sampai hasil-hasil penelitiannya yang berperan dalam mewujudkan masyarakat berkelanjutan…

dijelaskan dan ditekankan juga bahwa pengembangan bioproses membutuhkan kerjasama antar-disiplin (agar menjadikannya sebagai senjata utama membangun masyarakat berkelanjutan) dari pada kita meributkan istilah atau terminologinya yang membuang energi… (mungkin ini menyinggung keributan mau masuk TK atau SITH kayaknya nih)

saya tertarik menggali lebih jauh tentang 3BL – yang ternyata memang dijelaskan disini – sebelumnya saya membahas 3BL di tulisan Kontemplasi yang lalu

saya semakin percaya bahwa penerapan gerakan kemahasiswaan sekarang harus memenuhi kriteria 3BL ini. karena dimasa depan, konsep masyarakat berkelanjutanlah yang dapat menghindari bencana global atas perkembangan buruk dari Bumi kita tercinta ini….

lalu sebagai mahasiswa di masa kini: konsep membangun gerakan ini mestilah dimulai dan diperdalam, baik secara makna sebenarnya atau pun secara falsafahnya

——————untuk saat ini, saya akan share intisari dari pidato ilmiah Prof Tjandra————————-

Permasalahan kita saat ini?

bumi menjadi bak sampah manusia. terjadi 2 peristiwa masif saat ini, peningkatan secara terus menerus populasi global dan terus memburuknya kondisi lingkungan

SDA (juga air, tanah dan bahkan keanekaragaman hayati) terus tertekan…

dari permasalahan ini, kita mendapatkan urgensi untuk menjaga kapasitas lingkungan agar dapat melakukan fungsi-fungsinya dengan baik…

selanjutnya, menusia sebagai pihak yang paling bertanggungjawab

harus bisa menanggapi ini sebagai tantangan (kondisi permasalahan yang menuntut suatu kemampuan baru yang masih harus dicari dan dikembangkan)…

3 tantangan yg paling menonojol:

1. pesatnya laju pertumbuhan populasi manusia di bumi…

2. bumi terpecahbelah menjadi dua dunia (utara-negara maju dan selatan-negara berkembang)

3. perkembangan iptek yang secara umum masih bercirikan eksploitatif (menghasilkan limbah tinggi dan tidak hemat energi)

jika ketiga tantangan tadi tak bisa diselesaikan maka akibatnya adalah:

1. krisis air bersih

2. berkurangnya lahan pertanian

3. menipisnya kawasan hutan

4. pencemaran dan perusakan ekosistem pantai dan laut

5. peningkatan beban pencemaran ke udara dan atmosfer

lalu apa yang dapat kita lakukan?

usaha yang harus dilakukan adalah bagaimana mengatur berbagai upaya untuk mencapai kesetimbangan di bumi ini!

pencapaian kesetimbangan yg dapat menunjang kebutuhan manusia saat ini dengan tidak mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan yang mereka perlukan dikenal sebagai “keberlanjutan” (sustainable)

dan masyarakat yang berusaha menciptakan kondisi seperti itu disebut sebagai masyarakat berkelanjutan (sustainable society)

lalu apa kriteria dalam mewujudkan berbagai suaha tadi?

3BL! planet (lingkungan) profit (ekonomi) people (sosial)!

mungkin profit bisa menjadi daya tawar dalam menghadapi tantangan zaman dimana orang2 sekarang cenderung pragmatis (analisis saya – dibahas nanti saja ini)

dari sini…

dengan kemampuan manusia yang sudah dapat memanipulasi kehidupan pada tingkat yang sangat dasar dan sistem biologi adalah sistem yg sangat rumit namun tersusun rapi dan indah, tetapi sistem ini juga tetap mengikuti aturan-aturan kimia dan fisika dan dapat dipengaruhi oleh analisis teknik…

maka teknik bioproses semestinya bisa memprediksi sel hidup dan menggunakan proses-proses yang dibangun secara rasional pada tingkat komersial dalam membangun visi dan harapan baru di masa depan

SARJANA TEKNIK MEMPUNYAI PERAN YANG MENDASAR DALAM MENGUBAH VISI TERSEBUT MENJADI KENYATAAN

teknik bioproses bekerja pada garis batas antara biologi dan ilmu teknik untuk “Membawa Teknik ke Kehidupan” melalui konversi materi biologi menjadi bentuk lain yang diperlukan oleh umat manusia…

ayo: bahan bakar nabati / biofuel, biomaterials, teknologi sistem fermentasi, pengolahan limbah, sistem pemrosesan pangan, pemisahan produk, sistem dan instrumentasi proses biologi dan berbagai aplikasi lainnya!

Prof Tjandra kemudian menceritakan penelitiannya dalam bidang bioreaktor membran, plastik biodegredabel, proses anaerobik limbah industri, dan lain lain yang sangat erat kaitannya dalam peran bioproses yang sifatnya ekologis

di akhir Prof Tjandra menyampaikan tentang penelitian-penelitian yang perlu dikembangkan di TK ITB:

1. pemecahan lignoselulosa

2. industri bioproses hemat energi, kompak, berbiaya rendah dan menghasilkan produk yg menggantikan produk berbahan baku dr fosil

3. proses hilir

4. pengambilan dan pembuatan produk berharga dari limbah

5. teknik pengendalian dalam bioproses

6. pengembangan bioproduk pangan

———————————————————————————————————————-

kesimpulan

1. mau sampai kapan kita diam saja? dunia utara sudah sekian tahun didepan kita…mereka akan menajajah kekayaan biomassa kita di masa depan…mau menjadi tamu di tanah sendiri lagi?

2. yakin belajar ilmu teknik kimia saja sudah cukup?! ayolah, pelajari biologi, biokimia, ekonomi, sosiologi, politik, dan lainnya juga! termasuk softskill! (saya mungkin awalnya tidak suka biologi, tapi belajarlah mencintai – dari manfaatnya)

3. kita tetap ga akan bisa sendiri juga: ingat semakin ke depan tantangan semakin sulit dan integrasi keilmuan semakin krusial…ayo kerjasama antar disiplin!

4. itb pengen anak2nya jadi pemimpin dan pemimpin adalah sumber solusi! mari terus belajar dan praktikan!

5. ayo bangun mimpi untuk membuat Indonesia lebih baik, Indonesia mandiri, Indonesia tersenyum :)

——————————-

bismillah, di masa depan:

saya akan membangun kompleks bioenergi dari hulu ke hilir yang terintegrasi, ekologis, dan bermanfaat bagi masyarakat

Saat-saat sekarang saya baru banyak diskusi sama kak As’ad Arifin 13007097 TK’07

sungguh beneran: banyak nilai yang sangat bagus yang ga sampai ke angaktan kami: 2009

tapi ga pernah ada kata terlambat buat belajar bingung mulai tulisan dari manatapi inilah kontemplasinya…

tapi gaya abstrak, radikal, saya tetap dipertahankan

( baca: ga jelas dan susah dimengerti, kompleks – maaf INFJ disini :D )

tapi silahkan sajalah—————————————————————————————————————

 

himpun, berhimpun : berkumpul

himpunan : kumpulan benda konkret/abstrak yang dapat ditumpuk atau dibedakan dengan jelas

bahkan kalau kata matematika, anggota himpunan yang sama ga diitung sebagai dua anggota…contoh jika H adalah himpunan yang menyatakan huruf pembentuk kata “makan” maka anggota himpunan H adalah M, A, K,N (jadi, wajar kalau anggota himpunan itu “berbeda-beda” – dan itu bukan masalah – sampai sebatas mana batas kewajaran bedanya, itu lain lagi persoalannya – dibahas nanti saja)

 

setiap anak TK ITB yang kuliah disana akan lulus sebagai sarjana TK ITB. lulus sebagai sarjana TK ITB mungkin lulus – tapi yakinkah udah jadi “sarjana”? soalnya, ada istilah “sarjana yang utuh”?

istilah apa lagi ini? siapa yang buat istilah ini?

benar itu – kalau udah dinyatakan lulus (kompre, kalau di TK), otomatis sudah jadi sarjana…sarjana TK ITB, udah lulus berdasarkan kurikulum prodi… tapi masalahnya, apa kurikulum dr prodi udah cukup? atau mungkin masih kurang? atau mungkin berlebihan? sampai dimana prodi menganalisis kebutuhan sarjana teknik kimia untuk indonesia? lalu apa benar kita dididik untuk indonesia? coba cek lagi visi prodi apa dan tujuan pendidikan prodi apa?

 

seberapa sering kita mendengar “bangsa kita/indonesia” dari mulut dosen? seberapa sering kita melihat slide dosen bertuliskan “bangsa indonesia”? kenapa kalau dapat “cobaan akademik” dibalasnya: “sudahlah di industri nanti juga pasti berat”? industri apa? siapa industri?

 

oke, masih merasa kurang ilmu yang bisa didapat dari prodi?

buat saya ya

lalu apa yang kurang?

setelah lulus saya akan menjadi bagian dari masyarakat – harus seperti apa saya disana? bagaimana saya hidup dengan masyarakat lain (yang lebih tua, lebih lama) nanti? mesti bagaimana saya? yah itulah pertanyaan (atau kompetensi) yang saya (tau) tidak pernah saya dapatkan langsung dari kurikulum prodi (mungkin kalau ada cuma sedikit sekali, dari cerita dosen, masih asesoris saja). kalau pun saya dapat itu, saya cuma tau teori saja. bagaimana saya mendapatkan cara-cara hidup ini? saya tidak tau – tapi saya cuma tau model belajar seperti ini cuma bisa di himpunan atau di unit. di sinilah tempat paling mungkin saya belajar bermasyarakat sebelum bermasyarakat. di himpunan malah ada pengabdian masyarakat, bisa hidup bersama masyarakat dan mencoba membantu mereka. dan disinilah tempat belajar bermasyarakat yang saya inginkan. tapi masyrakat disini berkembang sangat jauh dengan masyarakat disekitar. informasi bergerak sangat cepat dan tak terkendali – dunia sedang mengalami globalisasi informasi – revolusi informasi melahirkan masyrakat pengetahuan (baca Alvin Toffler: the third wave – post-industrial society).

inikah masyarakat pengetahuan? bahkan saya sendiri tidak bisa mengimbangi arus informasi yang bergerak, secara fisik dan maya. bahkan anggota masyarakat lebih dekat dengan alat penghubungnya dengan dunia dari pada “dunia” itu sendiri. menyapa di dunia nyata sulit sekali rasanya – entah berat atau canggung. sulit sekali mewujudkan kegiatan “gotong royong” yang melibatkan hampir seluruh anggota masyarakat. sulit sekali mencapai kesepakatan bersama bahkan untuk mewujudkan kepentingan seluruh masyarakat. dan tidak ada orang yang benar-benar bisa dijadikan contoh. lalu, kemana perginya sang tokoh masyararakat disini? yang suaranya sangat didengar oleh masyarakat dand ipercaya masyarakat ini? mungkin ini adalah “dunia” sekarang yang harus kita terima – tapi segampang itukah? saya masih tidak percaya dan memilih untuk tidak percaya jika hal-hal tadi adalah hal yang benar dan harus diterima begitu saja.

 

bahkan yang saya tangkap, tempat belajar bermasyarakat saya bingung dimana menempatkan sopan santun dan profesionalisme? lebih tinggi lagi, dimanakah Pancasila berada bahkan saya tidak tau – yang dahulu digali dari kehidupan di desa…

 

dimanakah perginya kearifan lokal yang bisa dan ingin saya pelajari dan saya praktekan? lalu masih layakkah tempat ini menjadi tempat belajar bermasyarakat? padahal bentuk masyarakat di organisasi kampus ini adalah bentuk bayangan masyarakat di masa depan bukan? lalu bagaimana jadinya dunia 30 tahun lagi? bagaimana jadinya bangsa kita 30 tahun lagi? siapa yang akan didengar? apa pemimpin di masa depan masih akan didengarkan rakyatnya? sampai sekarang saya masih belajar hal praktek ini dari mengamati lingkungan, saya harus membaca kecendrungan kemana masyrakat ini akan bergerak. masyarakat aktif demokratis yang (mendekati ideal) masih saya rasakan adalah masyarakat yang saya pelajari dari bung Khairidda N (TA’09) di kediamannya di Permata Cimahi Bandung Barat untuk waktu sekarang dan dulu sekali ketika saya SD di rumah nenek saya di Cigadung, Pandeglang. bagaimana kehidupan heterogen yang ada disana tapi tetap saling mengenal dan akrab, bagaimana kehidupan demokrasi digerakkan secara nyata dan oleh berkumpul langsung, bagaimana demokrasi substansial tumbuh (diupayakan untuk tumbuh), bagaimana kepemimpinan masih dirasakan dan didengar, bagaimana kepentingan umum dan kepercayaan masih diutamakan, bagaimana pengorbanan untuk masyrakat sangat diutamakan, bagaiamana tolong-menolong dilakukan tanpa itung-itungan, bagaimana akrabnya pergaulan dan kekayaan bahasa daerah yang terasa dan unik…sungguh nikmatnya menikmati kehidupan timur, kearifan lokal – saya meminjam istilah dari UGM: “kearifan lokal” (think globallly, act locally)

 

tapi, sampai saat ini saya masih berfikir dan yakin: kalau organisasi ini adalah wadah perkumpulan yang tempat belajar bermasyarakat sebelum kita menajadi masyrakat di masa depan nanti. dan selama kita adalah sarjana dan kita dari itb – ga semua bisa kuliah di tempat kaya itb dan ga semua tempat kuliah kaya itb – maka selayaknya kita menjadi bagian penting di masyarakat, membantu mendidik masyarakat agar mempu mengarahkan peradababan ke arah yang baik dan berkelanjutan sambil tetap menghormati terhadap nilai-nilai lokal yang ada dan menjaga kearifan lokal untuk tetap hidup (tidak matematis untung rugi). dan selama masih belajar – harusnya apa yang diajarin (kaderisasi/pendidikan) di himpunan beda sama yang diajarin prodi sekarang (ini akan dan harus dipikirkan lebih dalam lagi – sementara segini dulu)…di jaman revolusi informasi yang melahirkan masyarakat pengetahuan ini – mahasiswa membutuhkan kaderisasi yang membentuk kekritisan yang sangat tinggi dan terarah. dan semua kegiatan organisasi haruslah (dan adalah) kaderisasi. masyarakat pengetahuan adalah masyarakat yang sanggup bertahan dalam era globalisasi ini – kekritisan adalah kuncinya serta sigap dan cerdas dalam menanggapi perubahan – karena semakin ke depan perubahan adalah suatu keniscayaan…tetapi ingat PENGENDALIAN PROSES: bagaimana mengenal dan mengatasi setiap gangguan dan perubahan yang wajar dan tidak wajar sambil dengan tetap menjunjung nilai-nilai yang dipegang.

 

cobalah berfikir juga: pak Tatang, pak Herri, pak Tjandra yang sebegitu hebat-hebatnya saja masih belum bisa benar-benar mengubah Indonesia (paling tidak sesuai dengan idealisme mereka) – generasi penerus harus lebih hebat dari mereka dan generasi penerus harus melahirkan pemimpin yang lebih hebat…dan proses pelahiran inilah yang dinamakan kaderisasi atau pendidikan – penerus harus lebih baik dari pendahulu – itu baru berhasil.

 

kalau kata bang lendo novo, kira-kira begini (dari cerita kak As’ad Arifin TK’07) “seharusnya kalian lah (mahasiswa) yang paling tau mesti bergerak bagaimana seperti apa dan ke arah mana di zaman sekarang ini – cara dahulu mungkin sudah tidak relevan dengan kondisi zaman sekarang…dan sekarang bukan kami lagi yang menentukan. justru saat menjadi mahasiswalah kreativitas itu muncul – karena dahulu ketika kami menjadi mahasiswa, untuk bergerak seperti dahulu itu, kami lah yang memilih”

 

mungkinkah gerakan kesinambungan yang harus segera digalakkan sekarang? gerakan yang mengarah pada triple bottom linekah: people, planet, profit sebagai organisasi? profit yg saya maksud mungkin entrepreneurship (yang bsia jadi menjadi the next ruling class – di zaman materialisme ini) karena 3BL tadi bukan hanya milik perusahaan saja tapi juga organisasi – people : human capital berarti kaderisasi karena manusia bukanlah sumberdaya tetapi aset di zaman masyrakat pengetahuan ini (era revolusi informasi) – planet : natural capital berati berarti menjaga lingkungan dan bersahabat dengan alam – profit : keuntungan berarti memberikan nilai tambah bagi lingkungan sekitar ide yg sangat masih mentah dan asal (intuitif INFJ-nya keluar – ayolah baca pidato guru besar Prof. Tjandra dulu)

 

bangsa ini masih akan merindukan negarawan…

Sekali lagi tentang Himpunan

Posted: November 4, 2011 in Share
Tags: , ,

Secara sturktural dan konstitusi, himpunan adalah organisasi sentral dalam sistem KM ITB karena himpunan menjadi basis dalam KM ITB. Namun, secara kultural sendiri, himpunan adalah organisasi mahasiswa terdekat yang menaungi berbagai mahasiswa ITB dalam satu program studi atau satu fakultas.

 

 

Himpunan bukan hanya sekedar untuk membantu memenuhi kebutuhan sosial mahasiswa untuk berkumpul atau pun untuk membantu mahasiswa dalam hal akademik karena corak keprofesiannya, tetapi himpunan juga berdiri untuk tujuan yang mulia dalam gerakan mahasiswa. Himpunan menjadi wadah dalam membantu mahasiswa untuk bergerak membantu masyarakat dan juga menjadi wadah terdekat dan pertama bagi mahasiswanya dalam melakukan kontrol sosial, tentu dengan cara mereka masing-masing. Himpunan juga menjadi tempat mahasiswa berbagi suka cita dan bersama-sama mengembangkan hobinya. Corak pergerakan setiap himpunan di ITB memiliki ciri khasnya masing-masing karena kulturnya yang berbeda yang dipengaruhi banyak hal. Tetapi setiap himpunan pasti memiliki tujuan yang baik dengan cara yang berbeda tersebut

 

 

Himpunan juga bukanlah perusahaan atau pun EO, dalam himpunan setiap kegiatan adalah sepatutnya menjadi bentuk kaderisasi bagi setiap anggotanya. Himpunan seharusnya mengedepankan nilai-nilai humanisme dan patriotisme. Pengorbanan kita di himpunan memang berat dan secara materiil tidaklah sebanding dengan apa yang kita dapatkan, tetapi sebagai seorang mahasiswa, justru itulah perjuangan dan tantangan yang harus dihadapinya sebelum memasuki dunia nyata dalam masyarakat dan Negara, dan juga sebelum menjadi seoarang pemimpin bangsa yang memiliki mental negarawan bukan mental transaksional dan individualis.

Esensi Keberadaan …

Posted: November 4, 2011 in Share
Tags: , ,

Keberadaan ITB adalah untuk menjawab harapan bangsa ini untuk bisa hidup mandiri dan lebih menyejahterakan masyarakatnya. Apalagi teknologi  adalah  kekuatan dan sendi pembangunan suatu Negara. Jadi, kemajuan suatu pendidikan yang ada di ITB tersebut akan menjadi tolok ukur pembangunan negeri ini. Sebagai institut teknologi yang memiliki tenaga pengajar yang sangat bagus, fasilitas yang lengkap dan sebagai institut yang terus berkembang, selayaknya ITB yang suka disebut sebagai Institut terbaik Bangsa – karena mendapatkan input bibit muda terpintar Negara – mesti bisa menjadi institusi pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral pendidikan, menyajikan riset mutakhir yang juga menjawab kebutuhan untuk industri bangsa kita dan mampu memberikan lulusan terbaiknya yang bisa berkarya atau berkontirbusi dan memberikan solusi bagi persoalan bangsa Indonesia.

 

 

Keberadaan ITB bagi bangsa Indonesia tidak pernah dianggap tidak penting. Sebagai salah satu PTN juga, ITB masih dibantu pemerintah tentang masalah biaya (meskipun dalam PP 66/2010 peran pemerintah “berkurang”). Artinya, setiap mahasiswa yang kuliah di ITB menerima subsidi sehingga mahasiswa itu tidak perlu membayar mahal lagi biaya kuliahnya. Hal ini menunjukkan suatu kepercayaan dari pemerintah akan pentingnya pembangunan Human Capital bagi masa depan bangsa. Selain itu, sebuah kewajaran juga bila masyarakat Indonesia secara umum atau masyarakat sekitar ITB secara khusus – yang telah membayar pajak ke pemerintah sehingga dana ini digunakan untuk subsidi tadi – menaruh harapan besar mereka pada mahasiswa-mahasiswa ITB itu sendiri.

 

Sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan, mahasiswa ITB harus bisa membentuk tatanan kehidupan masyarakat yang lebih baik di masa depan. Tanggung jawab moral mahasiswa ITB ini harus disadari oleh seluruh mahasiswanya. Dalam menghadapi tantangan yang berat ini, mahasiswa ITB membutuhkan suatu wadah aktualisasi diri sebagai alat untuk menajwab tantangan tersebut. Sementara itu, pimpinan ITB sendiri menyadari juga bahwa pendidikan dalam bangku kuliah (akademik) saja tidaklah cukup, sehingga diperlukan bentuk pendidikan lain yang menunjang penididkan di bangku kuliah tersebut. Selain itu dari sisi mahasiswa sendiri, pasti kita sadar bahwa pendidikan lewat bangku kuliah (hardskill) saja tidaklah cukup untuk kita – dan tanpa perlu menyadari alasan filosofisnya – kita secara sadar membutuhkan suatu wadah untuk berorganisasi. Inilah alat lain yang kita butuhkan sebagai mahasiswa ITB yaitu organisasi kemahasiswaan untuk seluruh mahasiswa ITB. (dan) sekarang ini kita sudah memiliki KM ITB sebagai organisasi mahasiswa yang mewadahi seluruh mahasiswa ITB. Jadi, pada intinya Bangsa kita sendiri, Indonesia, membutuhkan KM ITB. Indonesia butuh KM ITB yang kelak akan menghasilkan alumni yang bukan hanya cakap dalam memangku jabatan atau mengembangkan ilmunya saja, tetapi alumni yang juga mau mengenal dan peduli pada masyarakat, mau berkorban untuk kesejahteraan rakyatnya, tulus dalam berusaha, berorientasi pada kemakmuran rakyat, serta siap menjadi besar karena ikut membesarkan orang lain.

 

 

KM ITB berdiri dan hidup untuk wadah aktualisasi diri mahasiswa ITB sebagai agen perubahan. Disinilah karakter seorang calon pemimpin bangsa akan dibentuk dan karakter inilah yang akan terus melekat secara permanen dalam diri kita. Setelah lulus kita memang pasti mendapatkan ijazah, tetapi ijazah ini hanyalah sebuah kertas buatan manusia yang bisa hilang, rusak, atau pun terbakar. Namun, karakter yang kita bentuk dan ditempa selama menjadi mahasiswa adalah sesuatu yang akan melekat terus dalam diri kita nanti kedepannya. Jadi, sudah selayaknya jika kehidupan kemahasiswan KM ITB mampu membentuk watak dan karakter yang baik bagi mahasiswa ITB itu sendiri. (dan) bagi mahasiswa sendiri penting bagi kita untuk dapat menikmati setiap perjuangan yang kita lakukan selama di kampus ITB.

Phillip G Altbach – Hakikat dari Gerakan Mahasiswa adalah Perubahan.

 

Gerakan mahasiswa ITB sejak dahulu sudah memberikan suatu kontribusi besar bagi bangsa ini. Gerakan mahasiswa sejak dahulu bersuara untuk menyikapi banyak hal dalam kehidupan bangsa ini dalam hal sosial, ekonomi dan politik bangsa Indonesia. Artinya mahasiswa ITB sangat peduli, kritis dan mau memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan juga kemanusiaan dalam kehidupan bangsanya, tidak hanya membicarakan hal-hal yang bersifat internal kemahasiswaan saja.

 

 

Memang setiap zaman memiliki tantangannya masing-masing, tetapi itu tidak berarti membuat kita melupakan semangat dan daya juang mahasiswa ITB zaman dahulu. Sikap heroisme para pendahulu itulah yang sebaiknya kita warisi dengan memperjuangkan lewat cara kita sendiri sesuai dengan tantangan zaman di era globalisasi yang kita hadapi sekarang.

                Mahasiswa ITB memang selayaknya memiliki kesadaran untuk memperjuangkan nasib masyarkat dan harga diri bangsanya. ITB sebagai institut yang mendapatkan mahasiswa yang memiliki kecerdasan tinggi dari seluruh Indonesia harus mampu menjadi pemimpin dalam hal pembangungan sains, teknologi, seni dan manajemen. Aset human capital terbesar dan terbaik bangsa ada di ITB. Jadi, sudah sebaiknya kalangan terpelajar ITB menjadi agen-agen perubahan bangsa ke arah yang baik bukan sebagai agen perusak bangsa ini.

Untuk menjadi pemimpin bangsa di masa mendatang yang akan menghadapi tantangan zaman yang lebih berat untuk membentuk tatanan kehidupan bangsa yang lebih baik, mahasiswa ITB memiliki alat dalam menjawab tantangan tersebut yaitu organisasi mahasiswa. Disinilah mahasiswa ITB belajar untuk memenuhi kebutuhannya, belajar untuk mengembangkan dirinya dan juga mulai belajar untuk berkontribusi untuk kehidupan masyarakat. Mahasiswa ITB memang sudah seharusnya mengenal rakyatnya agar kelak ketika sudah lulus nanti mau memperjuangkan rakyatnya yang juga sudah membiayai pendidikannya lewat subsidi. Rakyat Indonesia sendiri membutuhkan alumni ITB yang bukan hanya bisa bekerja dan mengembangkan ilmu dengan baik tetapi juga berintegritas, kritis dan mau berorientasi pada kemakmuran rakyat.

 

 

Saat ini mahasiswa ITB memiliki sistem KM ITB yang mewadahi seluruh kebutuhan mahasiswa ITB. Disinilah wujud nyata laboratorium bagi mahasiswa ITB untuk belajar. dalam KM ITB, ada Kabinet, Kongres, HMJ, Unit, Tim Beasiswa, MWA (adhoc). Kabinet adalah eksekutif, pelaksana, dan jika diibaratkan seorang ksatria, kabinet adalah ujung tombak yang menghujam dan menimbulkan dampak nyata dalam gerakan mahasiswa ITB, sedangkan kongres adalah representasi seluruh tubuh sang pemegang tombak yang mengarahkan ke mana tombak harus dihujamkan. HMJ adalah selayaknya harus dimasuki seluruh mahasiswa ITB, karena HMJ-lah yang menjadi wadah terdekat bagi seorang mahasiswa ITB dan HMJ juga lah yang mengirimkan perwakilannya ke kongres.

Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian karena manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tidak bisa dipenuhinya walaupun itu merupakan kebutuhan primer. Manusia hidup berdampingan dengan yang lainnya dan saling memenuhi kebutuhan masing-masing atau kebutuhan bersama baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebersamaan atau bersatunya manusia diwujudkan dalam banyak tujuan bersama, baik itu tujuan ekonomi, sosial, ataupun politik.

Sejarah juga mencatat bahwa setelah bersatunya pemuda bangsa ini pasca sumpah pemuda, perjuangan kemerdekaan dapat lebih kuat dan pemuda pun berperan luar biasa bagi kemerdekaan. Pemuda saat itu dapat menyatukan potensi diri dalam berfikir dan semangat untuk bergerak, sehingga dengan kekuatan idealisme dan semangat kebangsaan mereka dapat memberikan satu kontribusi yang besar dan melampaui zamannya. Selain hal tersebut, dorongan bergerak tersulut oleh keprihatinan akan penindasan rakyat oleh pemerintah kolonial.

Dalam konteks pemuda terpelajar sekarang atau mahasiswa masa kini, mereka memiliki suatu organisasi mahasiswa dimana sekelompok mahasiswa dengan kesamaan tertentu, bersatu dan mencoba mewujudkan potensinya untuk suatu tujuan bersama yang telah dibuat. Organisasi mahasiswa ini pada dasarnya adalah suatu bentuk alat konkrit dari peran pendidikan bagi manusia. Tidak lah perlu penjelasan filosofis lagi, bahwa kita pun sadar sebagai mahasiswa, bahwa secara alamiah, adalah tidak cukup jika kita hanya mengandalkan pendidikan formal saja, yaitu pendidikan dari bangku kuliah. Kita sadar bahwa kita juga butuh pendidikan informal, maka mahasiswa membentuk atau bergabung ke dalam suatu organisasi, lalu disinilah tempat kita bersatu, memenuhi kebutuhan kita dan mengembangkan diri kita. Kesadaran untuk berorganisasi ini secara alami tumbuh tentu juga sebagai akibat karena sifat alami kita sebagai mahluk sosial.

Saat ini, karena faktor ruang dan waktu, bentuk kebersamaan manusia juga mahasiswa mungkin bisa saja berubah terutama di zaman globalisasi sekarang, dimana teknologi informasi memberikan suatu tantangan bagi sebuah budaya kebersamaan sesama manusia. Akibat dari hal ini adalah suatu revolusi informasi dimana dengan media-media yang ada, jalinan komunikasi atau segala informasi dari belahan dunia manapun bisa diakses dengan mudah. Tetapi kemudahan ini juga justru dapat memberikan paradoks, karena kondisi ini dapat menghasilkan manusia yang lembam, sulit bergerak, karena dimanjakan dengan banyak hal yang instan seperti kemudahan akses informasi dan komunikasi tersebut.

Sekarang pun disekitar kita, kemahasiswaan ITB, sedang dijangkiti virus kultur budaya popular, ini pun sebagai efek dari globalisasi informasi dan komunikasi. Saat ini, kultur seperti budaya popular, semakin individualis, hedonism dan pragmatism menjadi pemandangan yang sudah tidak aneh lagi. Kebebasan media massa memang memunculkan budaya pop dikalangan mahasiswa. Individualis mencerminkan suatu sifat mahasiswa yang mencari apakah diri mereka memiliki kepentingan terhadap lingkungan atau tidak. Hedonisme dan pragamtisme mahasiswa ITB tidak bisa dilihat dari kacamata hitam putih. Hedonisme adalah konsekuensi dari kebebasan informasi sedangkan pragmatism muncul dari ketidakpastian nasib bangsa kita sendiri. Apalagi ini telah dicontohkan sebagian pendahulu kita, betapa idealism dengan mudahnya luntur di dunia nyata kelak. (buku putih perjuangan mahasiswa ITB 2008)

 

 

Dalam rezim teknologi informasi yang tak mengenal batas ini, revolusi informasi telah menghasilkan masyarakat pengetahuan. Masyarakat pengetahuan mengenal keunggulan ide, intelektualitas, dan hak kekayaan intelektual menjadi sesuatu yang berharga. Ini juga yang mengakibatkan bahwa perebutan informasi, citra, dan pengetahuan untuk bertahan hidup dan menguasai sesuatu. Efeknya adalah media berperan penting dalam membuat opini dan citra seseorang menjadi suatu hal yang harus dijaga apa lagi jika tidak semua orang memiliki sifat kritis dan tidak semua orang memiliki pengetahuan – sehingga mudah terjerumus ke dalam suatu jebakan media atau citra. Dalam mengolah fenomena ini, peran masyarakat kelas menengah sangatlah penting. Siapa itu masyarakat kelas menengah? Masyarakat kelas menengah menurut Richard Robison, dalam struktur ekonomi politik, adalah kalangan intelektual, teknokrat, manajer profesional, pengacara, aktivis LSM, aktivis partai politik, aktivis mahasiswa, dan pengusaha menengah bawah. Sedangkan menurut ADB, dengan penghampiran absolut, masyarakat menengah adalah masyrakat dengan batasan pengeluaran per orang sebesar 2-20 dollar AS setiap hari. Disinilah kita mengetahui peran nyata kita sebagai mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang perlu kita ketahui adalah masyarakat kelas menengah Indonesia adalah yang terbesar ketiga setelah China dan India. Inilah potensi bangsa kita untuk dapat memanfaatkan era ini dan bangkit menuju kemandirian.

Sebagai suatu golongan yang memiliki pengetahuan tinggi dan wawasan luas, seorang mahasiswa adalah golongan yang selalu dielukan (karena independensinya, bebas kepentingan) dan paling diharapkan oleh rakyat yang tertindas juga pemimpinnya untuk mampu memberikan perubahan. Hatta merumuskan bahwa pendidikan tingi yang ditempuh mahasiswa harus dapat mewujudkan insan yang memiliki keinsyafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakatnya. Inilah tanggung jawab moral yang langsung diemban sekitar 18,4 % pemuda Indonesia usia 17-24 yang berstatus mahasiswa dari total 25 juta jiwa. Tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa yang kelak akan memimpin bangsa harus sudah belajar bukan hanya ilmu yang ditekuninya tetapi juga belajar untuk memimpin, belajar untuk berkorban dan juga belajar untuk menghargai dan menghormati orang lain termasuk mereka yang tertindas, kelaparan dan harus untuk dibela kepentingan dan hak hidupnya.

Dari sini tentu kita ketahui, pembelajaran mahasiswa yang seperti tadi tidak didapat dari bangku kuliah, tapi didapat dari hal lain seperti organisasi mahasiswa atau pengalaman lain yang relevan. Organisasi mahasiswa ini menjadi laboratorium bagi mahasiswa untuk menunjang pembelajarannya dan kehidupannya kelak dalam menjawab tantangan zaman di masa kini dan membentuk tatanan masyarakat di masa depan…

Filosofi Pendidikan

Posted: November 4, 2011 in Share
Tags: , ,

Manusia adalah mahluk yang diciptakan dengan akal dan ini adalah hal yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya. Manusia menggunakan akal juga perasaaan dalam berfikir hingga memutuskan sesuatu perkara. Dasar pertimbangan memutuskan tadi banyak sekali, contohnya ada akal (rasio), bisa juga dasar hukum (konstitusi), juga ada pengalaman (empiris). Dari sini, kita juga akan sampai pada kesimpulan bahwa manusia adalah mahluk yang menyadari temporalitasnya. Manusia memiliki kepekaan historis sehingga ia mengingat kejadian di masa lalu, sekarang dan menyadari akan adanya masa depan. Manusia juga bisa beradaptasi, menyesuaikan dirinya dengan tuntutan lingkungan, namun jika (hanya) adaptasi disini sifat manusia adalah pasif. Manusia yang beradaptasi tadi (pasif) adalah manusia yang tereduksi nilai-nilai kemanusiaannya (terdehumanisasi). Sebaliknya, manusia yang memiliki kesadaran dan ingin melibatkan dirinya dalam mengolah fenomena lingkungan sehingga ia menjadi subjek di lingkungannya adalah manusia yang menyadari eksistensinya di antara mahluk hidup lainnya (manusia yang memiliki keinsyafan). Disinilah peran PENDIDIKAN, mengubah manusia dari objek menjadi subjek. Jadi, manusia yang terdidik adalah seorang agen perubahan dan selayaknya membawa perubahan ke arah yang lebih baik, dan bukan untuk dirinya saja tetapi bagi lingkungan dan juga orang lain yang masih menjadi “objek” oleh lingkungannya.

 

 

Hal esensial dari pendidikan bukanlah sekedar angka tinggi dalam ujian dan bukanlah kuantitas sarjana yang dihasilkan. Bagian paling esensial dari pendidikan adalah sesuai makna pendidikan untuk manusia itu sendiri, yaitu memanusiakan manusia.

Proses pendidikan yang benar seharusnya membuat manusia menjadi sadar akan keberadaan dirinya di antara manusia lainnya. Jadi, pendidikan adalah alat yang sangat vital dalam proses transformasi sosial. Artinya, dengan pendidikan, struktur sosial dapat berubah bentuk ke arah yang lebih baik dan bukan hanya sosial saja, tetapi kemampuan ekonomi juga dapat meningkat karena – tidak dapat dipungkiri oleh apa yang dijanjikan pendidikan – semakin tinggi pendidikan semakin kompeten dan kapabilitas tinggi maka semakin mudah peluang kita untuk melakukan aktifitas lebih yang dapat meningkatkan kemampuan ekonomi kita.

Tetapi fokus dan titik berat haruslah pada pendidikan sebagai alat yang sangat vital dalam proses transformasi sosial. Karena itu pula, Pendiri Bangsa kita percaya bahwa pendidikan adalah satu-satunya alat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan adalah proses transmisi budaya atau nilai yang berkembang seiring dengan perkembangan peradaban seperti konsep Trikon Ki Hadjar Dewantara yang menekankan pada penyesuaian dengan kultur masyarakat dan pembentukan pribadi bangsa seutuhnya. Dalam proses transmisi tersebut sangat perlu diperhatikan proses transmisi dan cara yang dilakukan dalam proses transmisi tersebut. Karena itu pendidikan seharusnya disesuaikan dengan unsur-unsur budaya di mana pendidikan itu berada. Dari sini, dapat kita amati bahwa pendidikan sendiri sangat menekankan kepada proses transmisinya, dan juga bukan hanya sekedar filosofi, apa lagi sekedar hanya hasilnya saja.

Apa yang diimpikan dari peran pendidikan dalam hal transformasi sosial adalah terbentuknya sebuah masyarakat madani dalam lingkungan bangsa Indonesia. Sintesa masyarakat madani tentu sangat bertumpu kepada generasi muda terutama mahasiswa sebagai insan akademis yang paling diharapkan mampu untuk membentuk tatanan kehidupan yang riil berkembang sekarang dan nanti yang harus ditanggapi. Namun, ini bukanlah sebuah tujuan dari proses pendidikan itu sendiri, tetapi merupakan tugas dan medan perang yang memang harus dihadapi setiap generasi muda. Jadi, tujuan proses pendidikan ini menjadi alat bagi mahasiswa untuk menjawab tantangannya.

Laboratorium di kampus atau alat konkrit dari peran pendidikan yang dijelaskan disini perwujudannya adalah sebuah organisasi mahasiswa.

tulisan terbuka untuk semua, cukup di renungkan saja, tidak usah pusing menyikapinya

——————————————————————————————————–

Diambil dan saya olah dari : Tulisan Ivan Mulianta (TA98)-TikTik Dewi Sartika (KI98)-Wishnu Kurniawan (MT01)-Adrian Maulana (MT01)-Firmansyah (MT01)-Berlin Wijaya (KI00); Steve Jobs; Mas Pram; Falsafah Dasar Konsepsi Organisasi KM ITB; Manifesto Pergerakan Mahasiswa ITB 2008 – KM ITB 07/08

Thanks to Semua Kakak-kakak saya di Kampus juga, terutama Auzan Abirama (TK06), Adri Kristian (TK06), teman HIMATEK, KOKESMA, serta semua teman yang lainnya yang menjadi tempat berbagi yg luar biasa! | sekali teman tetap teman!

Jika ada kesalahan murni itu dari saya!

——————————————————–

Apa itu pendidikan?

Layakkah jika ada seseorang yang “berpendidikan” menyebut petani, nelayan, tukang sapu jalanan atau tukang tambal ban dan lain-lain sebagai orang-orang yang tidak berpendidikan? Atau result of good social upbringing memang tidak “diajarkan” dalam “pendidikan”?

Lantas apa tujuan pendidikan tadi?

Menjadi mesin pencetak manusia berijazah yang mempedulikan jumlahnya? Atau mencetak peserta didik yang memiliki nilai tinggi?

Jangan sampai kita lupa makna dan esensi pendidikan itu sendiri

Inget bisa aja —-> ITB = institut tambal ban

Mari kita mulai membahas dari manusia itu sendiri

Manusia memiliki akal, ini adalah hal dasar yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya, ia menggunakan akal juga perasaannya dalam melakukan sesuatu, dalam konteks ini adalah beraktivitas hingga membuat keputusan untuk bertindak. Dasar pertimbangan memutuskan tadi banyak sekali, ada dasar hukum, ada hasil pemikiran sampai pengalamannya. Dari sini, kita dapat menyadari juga kalau manusia itu mahluk yang menyadari temporalitasnya. Manusia memiliki kepekaan historis sehingga ia mengingat kejadian di masa lalu, sekarang dan menyadari akan adanya masa depan. Manusia juga bisa beradaptasi, menyesuaikan dirinya dengan tuntutan lingkungan, namun jika (hanya) adaptasi disini sifatnya adalah pasif. Manusia yang beradaptasi tadi (pasif) adalah manusia yang tereduksi nilai-nilai kemanusiaannya (terdehumanisasi). Sebaliknya, manusia yang memiliki kesadaran dan ingin melibatkan dirinya dalam mengolah fenomena lingkungan sehingga ia menjadi subjek di lingkungannya adalah manusia yang menyadari eksistensinya di antara mahluk hidup lainnya. Disinilah peran PENDIDIKAN, yang berasal dari kata didik dengan imbuhan pe- -an, mengubah manusia dari objek menjadi subjek.

Bagaimana sudahkah mulai terbayang premis yang bilang kalau “tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia” dari bahasan tentang “manusia” itu sendiri

Dari sini makna dari hakikat manusia dan peran pendidikan dapat dihubungkan:

Proses pendidikan yang benar seharusnya membuat manusia menjadi sadar akan keberadaan dirinya di antara manusia lainnya. Jadi, pendidikan adalah alat yang sangat vital dalam proses transformasi sosial.

Pendidikan juga adalah satu-satunya alat dalam mewujudkan  “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Pendidikan adalah proses transmisi budaya atau nilai yang berkembang seiring dengan perkembangan peradaban seperti konsep Trikon Ki Hadjar Dewantara yang menekankan pada penyesuaian dengan kultur masyarakat dan pembentukan pribadi bangsa seutuhnya. Dalam proses transmisi tersebut sangat perlu diperhatikan proses transmisi dan cara yang dilakukan dalam proses transmisi tersebut. Karena itu pendidikan seharusnya disesuaikan dengan unsur-unsur budaya di mana pendidikan itu berada. Dari sini, dapat kita amati bahwa pendidikan sendiri sangat menekankan kepada proses transmisinya, dan juga bukan hanya sekedar filosofi, apa lagi sekedar hasilnya.

Apa kaitannya dalam konteks kita sebagai Mahasiswa

Dalam konteks kita sebagai mahasiswa, tujuan proses pendidikan dimanifestasikan dalam peran pendidikan yang memberi alat-alat bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangannya (tugas dan medan perangnya). Disini, makna tantangan bagi mahasiswa sebagai insan akademis adalah tatanan kehidupan yang riil berkembang sekarang dan nanti yang harus ditanggapi (termasuk tatanan kehidupan bermasyarakat – muncul istilah tatanan masyarakat madani). Namun yang perlu diperhatikan adalah tantangan ini bukanlah tujuan dari proses pendidikan itu sendiri, tetapi merupakan tugas dan medan perang yang harus dihadapi setiap generasi yang sedang atau telah menjalani proses pendidikan (mahasiswa sendiri). Sekali lagi, tujuan proses pendidikan ini menjadi alat bagi mahasiswa untuk menjawab tantangannya. Bentuk alat konkrit dari peran pendidikan yang dijelaskan disini adalah sebuah organisasi mahasiswa.

Pada dasarnya, mahasiswa mungkin tidak menyadari hakikat (yang terlalu filosofis) diatas, namun mahluk berakal yang menyadari temporalitasnya ini sangat sadar bahwa pendidikan yang dijalani di dalam kelas saja tidaklah cukup, maka mahasiswa itu kemudian akan memutuskan untuk berorganisasi, belajar di luar kelas…untuk mendapatkan pelajaran lain (kata pendidikan lah yg cocok, karena lebih bermakna – dalam undang-undang kita pendidikan seperti ini digolongkan sebagai pendidikan non formal: proses yang diperoleh seseorang dari masyarakat dan interaksi-interaksi di dalamnya, media massa, buku-buku, dan lain-lain)

Tetapi seperti apakah bentuk organisasi yang diikuti mahasiswa ini?

Akankah hanya membebek institusi pendidikan formalnya sendiri yang melabelkan “pendidikan” tapi dalam pelaksanaannya hanyalah kata-kata usang yang hanya dielu-elukan tanpa teramalkan dengan baik?

Motif seorang mahasiswa untuk mengikuti organisasi kemahasiswaan memang beragam, tetapi yang jelas organisasi kemahasiswaan hanyalah wadah, sebatas wadah saja. Organisasi kemahasiswaan berdiri dengan tujuan luhur yang mulia, jika kita mendapati organisasi kemahasiswaan yang mengalami disorientasi itu lebih disebabkan pada “isi wadahnya”. Sehingga dalam masa kini, munculah isu-isu seperti organisasi = EO. Namun, dalam menjaga “label” wadahnya ini juga lah, lahir fenomena kaderisasi. Tetapi bukan ini yang akan dibahas lebih lanjut.

Fenomena masa kekinian

Jika ditelusuri lebih dalam, hal-hal yang tadi lebih disebabkan kultur budaya populer yang tidak bisa terelakkan di “rezim” teknologi informasi sekarang, efeknya ia membawa individualis, hedonis dan pragmatisme mencuat di kehidupan sehari-hari mahasiswa sekarang. Kebebasan media massa dan media interaksi virtual yang tanpa batas memunculkan budaya pop yang lebih menjalar di kalangan mahasiswa.

Hedonisme dan pragmatisme mahasiswa ITB tidak dapat dilihat dari kaca mata hitam putih. Hedonisme adalah konsekuensi dari kebebasan informasi sedangkan pragmatisme muncul dari ketidakpastian masa depan bangsa kita…Apalagi hal ini telah dicontohkan oleh para pendahulunya, betapa idealisme kemahasiswaan dengan mudahnya luntur di dunia nyata. Kesimpulan utama dari hal ini sebagai benang merahnya adalah betapa kapitalisme telah mewabah, yang didasari dari sebuah individualisme, pragmatisme dan lunturnya nilai-nilai luhur tujuan organisasi mahasiswa yang ingin mewujudkan sebuah cita-cita atau tujuan dari “pendidikan”.

Tetapi seperti apakah sikap yang seharusnya ditunjukkan seorang yang “berpendidikan”?

“Pendidikan” kini menjadi sebuah alat industri: menjadi mesin pencetak manusia berijazah yang ingin jumlahnya terus naik dan naik serta menjadi mesin pencetak peserta didik yang memiliki nilai akademik tinggi…akankah kita membebek? Kalau bisa berfikir mendasar dan luhur, itukah yang dilakukan?

Keadaan ini semakin buruk jika kita menyadari perkataan Philip G. Altbach dalam bukunya “Higher Education in the Thirld World” mengatakan bahwa perguruan tinggi di negara-negara berkembang hanya menyiapkan lulusannya untuk menjadi sekrup-sekrup industri milik negara-negara maju (benarkah kawan?). Artinya, bagaimanapun hebat spesialisasi perguruan tinggi di negara kita, lulusannya memang sudah dipersiapkan untuk menjadi ahli-ahli mekanis industri. Menurut Weber, spesialisasi sendiri adalah hal yang menyebabkan terjadinya dehumanisasi, apalagi dalam pendidikan. Karena, jika pendidikan terspesialisasi sedemikian rupa sehingga membuat orang terdidik tidak tau apa-apa dan diam dalam hal yang di luar subjeknya, ini bisa berdampak pada alienasi pendidikan itu sendiri dari realita yang ada di masyarakat. Jacques Maritain lebih kejam lagi, jika hal ini terjadi ia menyebutnya sebagai animalisasi.

Bila kita meninjau teori core-peripheral, dengan negara-negara maju sebagai pusat teknologi yang memberikan sebagian teknologinya kepada negara-negara Dunia Ketiga, lalu negara Dunia Ketiga ini pun mengembangkan teknologinya yang sudah dibeli oleh negara di dunia maju, sehingga negara di dunia ketiga ini pun selalu kalah teknologinya.

Hal-hal yang dijelaskan tadi adalah sebuah tantangan untuk kita, membangun sebuah pendidikan bukanlah hal yang mudah, tetapi sebagai insan akademis, selalu mencari kebenaran ilmiah dan membela kebenaran ilmiah adalah sebuah tuntutan. Mengkritik dirinya sendiri dan mengkritik lingkungannya haruslah dilakukan untuk membentuk tatanan yang lebih baik di masa depan.

Karena dasar-dasar yang mengedepankan kemanusiaan (humanisme), inspirasi antar sesama individunya, keadilan sosial yang dibentuknya, mendidik untuk mencari, keikhlasan dan ketulusan, empati dan tidak antipati, kepercayaan – yang semuanya berwujud pada kekeluargaan adalah sebuah nilai-nilai luhur organisasi mahasiswa. Bukan juga sebuah kekeluargaan yang semu. Mahasiswa yang selalu berkontribusi pada organisasinya tidak akan pernah mendapat imbalan riil yang sanggup melebihi effortnya yang telah diberikan, tetapi justru inilah kekuatannya, karena proses yang membutuhkan kesabaran dan keikhlasan ini yang akan membentuk sebuah karakter yang berorientasi positif. Karena, disini mahasiswa tidak diberi bahan bakar semcam uang atau kontraprestasi apapun untuk bergerak dan berusaha, hanya orientasi dan semua perwujudan dari kekeluargaan tadi yang menjadi bahan bakar untuknya bergerak, bahkan itu yang membangkitkannya ketika ia terjatuh nanti.

Karena nilai-nilai diatas tadi, organisasi mahasiswa bukanlah sebuah kelompok kapitalis yang menjadi budak teknologi informasi, yang hanya sekedar berorientasi pada hasil, antipati, berfikir pragmatis, dan melihat untung ruginya ketika bertindak. Di golongan ini, mereka digerakkan oleh uang (percayalah dunia inilah yang akan menjebak kita nanti setelah masuk ke dunia nyata [dan inilah juga dunia yang telah banyak menjebak para pendahulu kita] karena, sekali lagi bangsa kita sedang tidak jelas masa depannya [maukah kita mengubahnya atau diam saja?], tetapi – saya masih yakin – orientasi masa depan yang positif dan kuat yang telah kita dapat ketika berorganisasi selama menjadi mahasiswa, akan membuat kita pantang untuk tenggelam lebih dalam, atau bahkan menghindarinya, asalkan kita tetap menjaga suhu lingkungan kita dengan semangat idealisme yang tetap terbakar pula).

Memang ada dasar-dasar dan tujuan (target) yang perlu dipegang, tetapi selama kebutuhan fundamental tetap terpenuhi – saya masih percaya – tidak ada alasan untuk terus menuntut dan menuntut akan sebuah hasil bahkan hanya karena sebuah konvensi, apalagi jika dasarnya asumsi kabur, menjalankan proker saja asal bos senang, mencari popularitas, karena kemarin effort saya lebih besar  dari anda jadi anda mesti bla bla bla, mencari pembenaran yang tidak mendidik dan hal buruk lainnya yang berefek disorientasi dan kehilangan jati diri.

Jika memang ingin sebuah hasil, lebih baik menelanjangi diri dan memakai jubah kapitalisme dan membuang identitas organisasi kemahasiswaan yang berada dalam suatu sistem pendidikan atau terserah

————————————————————————————–

Kesempatan mendapat pengajaran dikampus terbaik bangsa bukan tanpa post-syndrome, efeknya harusnya secara sadar langsung terasa…

ada tanggung jawab secara sadar untuk berbuat bagi lingkungan,

dari KINETIKA reaksi kimia dalam metode tahap pengendali untuk menentukan laju reaksi, dipelajari bahwa:

laju suatu reaksi bergantung pada laju reaksi elementer yang paling lambat lajunya

kemajuan dari bangsa ini juga tergantung pada bagian yang paling lambat kemajuannya, siapa? renungkanlah?

mereka yang terdehumanisasi (?)

dan bagi kita yang sudah melaju cepat dan berada di depan,

maukah mengulurkan tangan kita untuk membantu mereka yang lambat dan berada di belakang?

karena itu adalah pendidikan…

jika memang kami tidak mampu, saya berdoa jangan sampai the rulling class selanjutnya berasal dari kalangan yang lupa esensi dan hakikat pendidikan

———————————————————————————————

Ingat, kita adalah terpelajar. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu. . .

Dan seorang terpelajar harus memperjuangkan sebuah kemerdekaan, tidak menyerah pada keadaan!

Agar mewujudkan kalimat-kalimat di atas lebih mudah, selalu ingatlah kematian, karena bisa saja hari ini adalah hari terkahir kita hidup, lalu apa yang akan kita lakukan?

Dan di penghujung hari silahkan kita berkaca, jika ini adalah hari terakhir saya dan saya tidur untuk tak bangun lagi, tanyakanlah pada diri kita sendiri: “apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini (tadi)? Lalu bagaimana dengan esok?”

STAY HUNGRY, STAY FOOLISH!

untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater

13009098

Sedikit berbagi tentang kondisi energi Negara kita…

 

 

Temen-temen tau kan sekarang kenapa harga minyak dunia naik?

Nah, terus kenapa ya setiap harga minyak dunia itu naik, Indonesia pasti kelabakan?

Ternyata begini, Indonesia itu masih mensubsidi BBM untuk rakyatnya. Jadi, setiap pemerintah nyusun anggaran Negara, di anggaran itu dipatok asumsi harga minyak dunia per barelnya berapa untuk tahun anggarannya, misalkan asumsinya setahun kedepan sekitar 80 dollar per barel. Nah, jadinya kalau ternyata di tahun depan itu harga minyak jadi 100 dollar per barel kan ceritanya pasti jadi beda? Ya kan? Mungkin yang tadinya besar subsidi senilai 80 triliun per tahun (ngasal, cuma contoh) dengan asumsi harga minyak 80 dollar per barel, ketika harga minyak jadi 100 dollar per barel maka kenaikan biaya untuk subsidi bisa aja jadi 100 triliun dollar per barel (ngasal juga, cuma contoh), gimana kebayangkan maksudnya? Banyak bgt tuh uang yang mesti dinaikkin, masalahnya nanti uang 20 triliun sisa diambil dari kantong siapa yaa?

 

Sebenernya apa sih yang disubsidi?

Kenapa juga BBM mesti disubsidi?

Jadi, premium yang kita beli untuk kendaraan kita yg minum premium di PERTAMINA TERCINTA itu ternyata harga 4500 itu harga setelah disubsidi pemerintah. Pemerintah ngeluarin duit sedemikian banyaknya agar harga premium ini bisa sampai 4500 seperti sekarang. Tujuannya biar rakyat Indonesia ga sengsara hidupnya, tapi benarkah demikian? Karena yang ditakuti adalah penikmat subsidi ini bukanlah “rakyat” yang seharusnya menerima subsidi…nah loh?! Gimana dong

 

 

 

Terus yang diributin sekarang apa?

Jadi, karena sekarang harga minyak dunia udah nembus 100 dollar per barel, maka pemerintah kelabakan, rakyat ketakutan…

biasanya sih ya, kalau diliat dari sejarah, kalau situasinya seperti ini, pemerintah akan MENAIKAN HARGA BBM, wah wah wah…gimana nasib rakyat kita loh? Mereka udah bayarin pajak untuk pendidikan kita juga kan sampe-sampe biaya per semester kita cuma 4 juta aja, padahal teknik kimia di swasta bisa sampai 15 juta loh per semester…wah wah, katanya Bu Mel juga sih, setiap mahasiswa TK itu pertahun biaya normalnya itu sampai 23 juta. Lah, kok bisa kita artinya sekarang cuma bayar 8 juta doang pertahun?! Sisa 15 juta siapa yg bayarin?!

Sebenarnya sisa uang itu adalah uang rakyat Indonesia..jadi kalau kita ga peduli sama rakyat kita dan ga buka mata tentang Indonesia kita yang tercinta ini, kita ini bisa jadi calon penjahat…aduh jangan dong yaa! Mari kita bantu, dengan mulai mengenal masalah energi ini yang menyangkut kehidupan seluruh rakyat Indonesia…dan lalu berkontribusi! Karena kita TEKNIK KIMIA, energi itu kita loh yg ngurusin hehe…

 

 

 

Tenang-tenang, harga BBM ternyata ga dinaikin…tapi katanya sih subsidi BBM-nya yg diturunin?

Nah ini apa maksudnya nih?

Jadi gini, ternyata naikin harga BBM = nurunin subsidi…cuma beda packaging aja, hehehe, jangan ketipu beli kucing dalam karung dapetnya truffle…(ga lucu)

Lanjut, ternyata SOLUSI ini bukanlah solusi yang bisa menyelasaikan AKAR masalah dengan tepat…setuju ga?! Setuju dong, hehe :D

 

 

 

Solusinya gimana dong bro sis?!

Begini, mari kita pahami ttg konsep BBM dari awal dia naik ke permukaan bumi sampai masuk ke tangki bensin kendaraan kita…hohohoho

Ternyata INDONESIA ini kaya akan cadangan minyak loh, menurut si oil explorer candagan kita yg sudah terbukti itu bisa sampe 4230 MMSTB (nah loh satuan apaan nih >> million stirred tank barrel)…ini gede banget bro sis, bahkan ini adalah data proven, belum data-data dari tempat potensial…wow

Ternyata sampai tahap reservoir, kita tuh kaya akan minyak…lalu kita beralih ke tahap pengolahan atau pengilangan…

Teman-teman yg tercinta, ternyata ini dia nih problemnya, banyak masalah penyebab hal ini…mulai dari kilang minyak kita yang kurang, dan kualitas kilang minyak yang ga baik, bahkan kita punya kilang miyak nganggur…maksudnya kita = pertamina :D

Bahkan yang menyakitkan, rating nelson complexity index 2010 menunjukkan bahwa (ttg rating kemampuan kilang minyak, makin tinggi makin oke) Indonesia itu cuma 5,3, singapur itu 6,8, sebagai bandingan juga, amerika itu 10,7 dan inggris 9,0. Masa Indonesia lebih jelek dari singapura? Ajegile…ternyata, itu wajar…kenapa? karena produksi pengilangan mereka, per harinya, masih diatas Indonesia….gila, negeri segede upil itu dapet minyak dari mana? Mereka puya kilang berapa dan kaya gimana? Nah kan…

Setelah mengetahui masalah pengilangan…kita cek masalah distribusinya hingga ke tangan kita…

GAWAT! Orang kita ngilang aja dikit (dr kata dasar “kilang” bertemu imbuhan meng- dengan unsur “me” yg menyusut), gimana mau Menuhin kebutuhan BBM dari 220an juta lebih rakyatnya? Apalagi kita Negara kepulauan bro sis! Distribusi makin susah bro! Alhasil, produksi kita kurang dari KONSUMSI kita…Karena kita produksi kurang dari kebutuhan, nah kita jadinya IMPOR minyak sekarang…harga minyak dunia inilah yang disubsidi pemerintah…padahal, Negara ini sangat bergantung dengan BBM itu..ck ck ck

Dari sini dapat kita simpulkan juga loh, kalau cuma mainin subsidi atau mainin harga BBM, itu sebenarnya ga nyelesain masalah dasarnya…iya ga? Iya dong

Pelik banget kan?! Tapi jangan mundur, kita ini ITB bro! Kita yang bisa mikirin sampai dalem, dan kita yang diharapin semua orang buat ngejar impian impian ibu pertiwi! Ga boleh ada lagi anak cucu kita nyanyiin melihat ibu pertiwi yang sedang bersusah hati!

 

 

Apa dong kira-kira solusi lain yang ngena bgt?

Begini, pada dasarnya jelas Indonesia kita masih tergantung dengan BBM, padahal kita punya cadangan gas dan batu bara yang banyak juga. Tapi kenapa ga ngaruh tuh minyak, gas, sama batu bara? Jelas ga ngaruh karena ujung pemanfaatan energinya dan bentuk (fasa) final energinya itu beda

BBM itu adalah sumber energi yang juga tidak terbarukan, kalaupun terbarukan, nunggunya jutaan tahun! Makanya dengan isu lingkungan yang gencar juga sekarang, kita beralih ke energi yang renewable dan sustainable! NAMUN, BBM ini masih diipuja-puja, bisnis duit gede-gedean muter di perusahaan-perusahaan oil and gas bos, dan inilah yang masih akan mendominasi dunia energi sekarang.

Terus gimana bangun solusinya? Karena BBM ini masih mendominasi dan sulit tergantikan, kita substitusi aja deh, karena ngegantinya susah dan ga instan makanya substitusi aja dikit-dikit sampai kita bisa ga tergantung lagi nih, kalau bisa dengan bahan yang renewable…gimana? Oke kita lanjut!

Bentar…list dulu yuk, apa aja energi sustainable…Tapi sebelum buat listnya, kita cek lagi nih, supaya tepat sasaran, sebenernya BBM itu dipake buat apa? Apa hayo? Wah ternayta BBM itu produk akhirnya BENSIN yang kita pake buat transportasi…Oke sekrang kita buat list sekaligus bentuk pemanfaatan energinya!

  • Sinar surya…ini ujung-ujungnya ya paling jadi listrik
  • Tenaga angin…ini juga jadi listrik aja
  • Tenaga air…jelas ini listrik! Masa motor bakar pake air? Hehe
  • Panas bumi…ini gimana cara jadiin bensinnya?!
  • Arus laut…air garem dijadiin bensin? Gimana nih bro?
  • Tenaga ombak…wah ini paling listrik ajaaa
  • Energi termal samudra…aduh susah, ini pasti listrik!
  • Tenaga nuklir..nah ini jelas buat listrik, hati-hati ya buatnya, always safety!
  • Biomassa..apaan tuh? *brb googling* Bahan organic dr tumbuhan/hewan…gimana jadi energinya mas?

Ssttt, bentar dulu, ternyata rata2 energi renewable itu produknya untuk listrik…loh terus gimana?

 

 

 

Pernah denger BIOETANOL? Pernah denger BIODIESEL? Nah mereka itulah produk biomassa

Ternyata biofuel (biodiesel dan bioetanol) itu bagian dari bioamssa! Cocok nih! Ayo lanjut!

Eh bentar, katanya sekarang jamannya mobil hybrid, fule cell, batere?! Ah engga kok, orang-orang pinter MIT udah buat tulisan kalau sampaiu tahun 2035 bahan bakar cair kaya produk BBM (premium, pertamax, solar) itu bahan-bahan yang masih mendominasi sbg baha bakar kendaraan di jalanan dunia ini

 

Ayo sekarang kita maju bahas bioetanol dan biodiesel!

…to be continued…


diolah dari diskusi, kajian, koran, dialektika, seminar, dan tulisan / dialog dosen…

Tulisan ini lebih banyak membicarakan dan menggali aspek kemahasiswaan dalam kampus ITB

 


Ini adalah sebuah “era baru” dunia kemahasiswaan;

Tidak ada yang memungkiri bahwa sekarang adalah era “transisi” dunia kemahasiswaan. Dari dulu yang identik dengan gerakan dan aksi di jalan dalam perlawanan atas tirani kekuasaan, dan sekarang setelah era ‘98 seolah belum menemukan jati dirinya…

 

 

Teman saya berkata, “saat ini, seperti ada dikotomi antara arah gerak vertikal dan horizontal”.

 


Sekarang, gerakan community development atau community service – yang keduanya menurut saya ada dalam satu kitab pengabdian masyarakat – sangat gencar digalakkan, inilah yang biasa disebut gerakan horizontal. Sementara di kubu yang lain (dengan argumen) tekanan masa waktu studi yang sangat keras, kalangan mahasiswa yang dekat dengan gerakan vertikal (aktivis dulu atau pun sekarang) lebih memilih tetap untuk turun ke jalan.

 

 

In my humble opinion, keduanya adalah satu kesatuan, saya pikir itu adalah representasi dari “menuntut perubahan” dan “menciptakan perubahan”. Dan memang benar keduanya adalah satu kesatuan.

Karena pada dasarnya menciptakan perubahan adalah kewajiban kita sebagai mahasiswa dan kita punya hak untuk menuntut perubahan kepada sang penguasa.

Tapi ada satu ide lainnya yang bisa lebih memepersatukannya – dalam konsep the ruling class; ini adalah murni pemikiran saya saja;

 

 

The idea of what this campus should be now is that students from here are job inventors

 


Saya yakin “the ruling class” selanjutnya berpotensi (baca: harus) muncul dari kalangan job inventor, paling tidak dari tokoh-tokoh utamanya

 

Sepertinya negeri ini tidak akan berubah jika kalangan lama “merebut” kembali predikat the ruling class

 


-          Apa itu job inventor?

Simpel, orang yang kerjaannya menciptakan “pekerjaan”. Tapi sebenarnya isinya lebih dari sekedar “pekerjaan”, karena makna pekerjaan sendiri berkembang menjadi “menciptakan sesuatu yg lama tapi baru”, dan para pioneer dan tokoh utama dari kalangan ini berpotensi menjadi the ruling class. Lebih dalam lagi, ada suatu pesan dari apa yang dilakukan oleh seorang job inventor, pesan inilah yang memberikan nilai manfaat kepada banyak orang dan yang membedakan mereka dari kalangan lain – yang lebih mengutamakan kepentingan dirinya. ( definisi sangat pribadi :) )

 


Sebagian Entrepreneur masuk ke golongan ini, ini hanya secara literally saja, tapi inti sebenarnya dari job inventor adalah sebuah hasil kreatifitas dan inovasi dalam menciptakan sebuah “dunia baru”. Apa maksud “dunia baru” disini?  “dunia baru” merepresentasikan keuniversalan dari skala karyanya, “dunia baru” adalah karya yang dihasilkan yang merupakan implementasi sebuah ide – yang menjawab permasalahan dari realita atau mungkin menjadi sebuah mainstream baru yang menginspirasi orang-orang lain.

 

 

Penjelasan di atas keliahatannya terlalu berat,

Contoh simpel dengan menjadi entrepreneur kita sudah menjadi seorang job inventor, entrepreneur memberikan lapangan pekerjaan, entrepreneur is a literally job inventor. Kalangan entrepreneur mampu bertindak cepat dan sudah terbiasa dengan keadaan terdesak, sepertinya kenaikan kalangan entrepreneur untuk menjadi the ruling class tinggal menunggu waktu saja (kemarin gagal), tapi perlu cara dan sikap elegan untuk menjadi pemimpin utama, dan merebut hati rakyat adalah tetap jadi PR yang utama.

Contoh selanjutnya (figuratively) adalah (spesifik aja) bapak Anis Baswedan dengan “Indonesia Mengajar”-nya, ini adalah lebih dari sekedar “pekerjaan”, dan “dunia baru” yang dihasilkan luar biasa, selain dari skalanya yang sangat besar dan universal, banyak anak muda yang sangat tertarik dengan program ini…bahkan sekarang di kampus, ada yang namanya ITB mengajar…

Contoh lain ada di sebuah program di MetroTV, yang isinya anak-anak muda membicarakan hal-hal yang “berat” – padahal susah sekali mengajak anak-anak muda berdiskusi untuk mengkaji permasalahan bangsa ini (massa unit kajian di ITB pun sepertinya semakin lama semakin berkurang sekarang ini), tapi mungkin ini kajian gaya baru, pengemasannya (atau entah apanya) membuat banyak anak muda lainnya tertarik untuk membahas hal-hal yang berat, mungkin ini kajian gaya masa transisi yang digemari, sungguh pemanfaatan kekuatan social media yang pas. Jika mau, orang-orang yang ada di acara ini bisa berpotensi menjadi the ruling class, bukan sekarang tapi nanti…

 

 

Dua contoh diatas ini mungkin hanya mempengaruhi kurang dari 20% orang Indonesia tetapi angka 20% ini 80% adalah masyarakat informasi yang “menggerakan” (quote unquote) Negara ini…

 

 

Small step dari seorang job inventor adalah ide dari imajinasinya, disini semua orang bisa memilikinya, tapi next step adalah implementasi, skala besar atau kecilnya janganlah terlalu dipikirkan, karena pada dasarnya job inventor itu pekerjaan yang baik, pekerjaan sosialis, tetapi ingat di tahap kedua ini seleksi alam berbicara :)

Gerakan apapun – entah vertikal atau horizontal – keduanya tetap satu kesatuan dan jika memberikan sebuah dunia baru akan menjadi suatu yang luar biasa. Dunia baru yang melawan realita, dunia baru yang melawan kenyataan yang kejam dan terekayasa. The ruling class akan hadir dari kalangan yang bisa memanfaatkan transisi dunia (negara) ini. Sungguh pekerjaan-pekerjaan para pendahulu sudah selesai, yang perlu dilanjutkan adalah keteladanan dan ke/negarawan/an mereka.